Tak Cetak Gol, Sabrina Dwi Ristiyana Tetap Jadi Pemain Terbaik MilkLife Soccer Challenge

- Senin, 29 Juni 2026 | 14:12 WIB
Tak Cetak Gol, Sabrina Dwi Ristiyana Tetap Jadi Pemain Terbaik MilkLife Soccer Challenge

MilkLife Soccer Challenge (MLSC) musim 2025/26 resmi berakhir. Kompetisi sepak bola wanita usia di bawah 12 tahun tingkat nasional itu ditutup dengan gelaran MLSC All-Stars 2026 di Supersoccer Arena, Kudus, pada 23-28 Juni lalu. All-Stars Kudus kembali menjadi juara setelah mengalahkan All-Stars Jakarta lewat adu penalti di partai final.

Dari puluhan ribu peserta yang tersebar di 12 kota, hanya satu pemain yang dinobatkan sebagai Best Player. Gelar itu jatuh kepada Sabrina Dwi Ristiyana, gelandang asal Kudus yang menjadi algojo terakhir dalam adu penalti final. Namun, sepanjang turnamen All-Stars, Sabrina tidak mencetak satu gol pun sebuah fakta yang menimbulkan tanda tanya di tengah banyaknya pemain lain yang lebih produktif.

Head Coach MLSC Nasional, Jacksen F. Tiago, menjelaskan alasan di balik keputusan tersebut. Menurutnya, sepak bola bukan hanya soal mencetak gol. "Sebenarnya kita di sini punya tugas untuk memilih pemain-pemain yang akan punya potensi, suatu waktu nanti pemain itu bisa mencapai level tim nasional senior. Itu menjadi tujuan kita," ujar Jacksen dalam konferensi pers usai final, Minggu (28/6).

Jacksen menilai Sabrina memiliki kecerdasan taktis yang luar biasa. "Dalam sudut pandang saya, Sabrina itu anak yang bermain sangat taktikal dan dia menjadi motor permainan di Kudus. Hampir semua bola dari sektor belakang ke depan bola itu lewat kakinya Sabrina dan dia distribusi bolanya itu memang sangat luar biasa sekali," tambahnya.

Pelatih berdarah Brasil itu menyebut Sabrina sebagai pusat permainan tim All-Stars Kudus. "Kalau kita melihat kelancaran proses serangan dari Kudus, kelancaran aliran bola dari Kudus hampir semua bola itu lewat kakinya Sabrina. Tidak pernah satu kali pun saya melihat anak itu tendang bola asal," katanya. Jacksen juga menyoroti kebiasaan Sabrina yang selalu mengontrol bola dengan baik, melakukan scanning ke seluruh lapangan, dan mencari ruang kosong setelah mengoper.

"Dia memberikan umpan bolanya, dia cepat cari ruang kosong, di mana dia bisa support sehingga tingkat intelegensi anak itu sangat luar biasa sekali. Dan saya sangat yakin kalau cita-cita kalau kita bandingkan dengan pemain lain anak itu akan cepat mencapai tim nasional Indonesia," ujar Jacksen.

Menurut Jacksen, kemampuan inteligensi Sabrina lebih berharga ketimbang kecepatan atau kekuatan tendangan. "Makanya mungkin dari sudut pandang teman-teman wartawan terkadang fokus kepada gol ya, kalau saya fokus kepada bagaimana mengalirkan permainan dari sebuah tim karena pada akhirnya saya akan memilih 15 pemain untuk bisa membentuk sebuah tim yang bisa menjadi kekuatan kita di Singapura nanti," jelasnya.

Jacksen yakin Sabrina mampu bermain di level yang lebih tinggi. "Dia punya keputusan, dia sangat tenang dan anak itu punya kriteria dia sangat cerdas dalam mengambil keputusan pada saat dia tertekan dan dia tetap tenang. Itu yang menjadi dasar saya untuk memilih dia," pungkasnya.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags