Kelompok Hizbullah menegaskan bahwa mereka tetap memiliki hak untuk membela Lebanon setelah menuduh Israel kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata melalui serangkaian serangan di wilayah Lebanon selatan. Dalam pernyataan yang dirilis pada Minggu malam, 28 Juni 2026, Hizbullah menyebut militer Israel terus melakukan pelanggaran terhadap gencatan senjata yang sebelumnya disepakati kedua pihak.
Menurut Hizbullah, pelanggaran terbaru meliputi serangan udara ke bangunan permukiman, serangan pesawat nirawak (drone), peledakan bangunan, hingga pelemparan bom suara dan benda mencurigakan di sejumlah wilayah Lebanon selatan. Serangan-serangan itu terjadi di Nabatiyeh, Mefedon, Farun, Al-Tayyiba, Hadata, dan Majdal Zoun.
Hizbullah menilai tindakan tersebut merupakan pelanggaran nyata terhadap kesepakatan gencatan senjata yang, menurut mereka, hingga kini masih dipatuhi oleh kelompok tersebut.
"Kami terus memantau dan mengawasi pelanggaran-pelanggaran ini, serta tetap memiliki hak untuk membela tanah air dan rakyat kami," demikian pernyataan Hizbullah, dikutip dari Tasnim News Agency.
Hizbullah menegaskan akan terus mencermati perkembangan di lapangan sembari mempertahankan hak untuk merespons setiap tindakan yang dianggap sebagai agresi Israel. Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan di Lebanon selatan, setelah Israel dalam beberapa hari terakhir kembali melancarkan serangan meski kesepakatan keamanan yang dimediasi Amerika Serikat telah diumumkan.
Sebelumnya, Hizbullah juga menolak kesepakatan tersebut dan menyebutnya sebagai bentuk konsesi yang menguntungkan Israel serta mengorbankan kedaulatan Lebanon.
Artikel Terkait
Logo HUT ke-81 RI Terpilih, Karya Fajar Novario Raih 44,73% Suara Publik
Sekjen Partai Buruh Mundur Bersama 1,3 Juta Anggota ORI, Plt Segera Ditunjuk
BEI Targetkan Kapitalisasi Pasar Tembus Rp30.000 Triliun pada 2030
BPJPH: Pendamping PPH Garda Terdepan Perkuat Ekosistem Halal Nasional