Iran melancarkan serangan rudal balistik dan drone ke pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait dan Bahrain sebagai balasan atas operasi Washington di dekat Selat Hormuz. Langkah ini menandai eskalasi dramatis dalam ketegangan yang sudah memuncak antara kedua negara dalam sepekan terakhir.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap Angkatan Darat AS di Pangkalan Udara Ali Al Salem, Kuwait, serta Armada Angkatan Laut Kelima AS di Pelabuhan Salman, Manama, Bahrain. Klaim tersebut disiarkan melalui kantor berita IRNA dan Tasnim pada Minggu (28/6/2026).
Serangan ini disebut sebagai respons langsung atas serangan AS terhadap lima lokasi pesisir di Iran sehari sebelumnya. Militer AS sebelumnya mengonfirmasi bahwa mereka menyerang sejumlah wilayah Iran di dekat Selat Hormuz pada Sabtu.
Ketegangan antara Teheran dan Washington meningkat pekan ini setelah keduanya berselisih mengenai prosedur pembukaan Selat Hormuz. Dua pekan lalu, Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman (MoU) perdamaian yang mencakup gencatan senjata 60 hari dan pembukaan jalur maritim strategis tersebut. Namun, perbedaan tafsir atas pelaksanaan kesepakatan itu memicu kembali permusuhan.
Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi perdagangan minyak dunia, dan setiap gangguan di kawasan itu berpotensi mengguncang pasar energi global.
Artikel Terkait
Harga Minyak Naik Tipis di Tengah Ketegangan Timur Tengah dan Proyeksi Permintaan yang Dipangkas
OPEC Kembali Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Permintaan Minyak 2026
Iran Tegaskan Selat Hormuz Tak Akan Dibuka Sebelum AS Penuhi Syarat
Trump Klaim Iran Bangkrut dan Tak Mampu Gaji Tentara, Inflasi Capai 300 Persen