Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa kekeringan akibat musim kemarau telah melanda 15 desa di empat kabupaten, dengan lebih dari 20 ribu jiwa terdampak. Wilayah terdampak tersebar di Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Barat.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyatakan bahwa di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, empat desa di Kecamatan Pemalang mengalami kekeringan. Desa-desa tersebut adalah Kendalsari, Tegalmulyo, Tlogowatu, dan Sidorejo. "BPBD mencatat 2.498 kepala keluarga (KK) atau 8.319 jiwa terpapar kekeringan di wilayah tersebut. Bencana ini dilaporkan BPBD Kabupaten Klaten sejak awal Juni 2026. Sebanyak 377 KK atau 1.450 jiwa mendapatkan 60.000 liter air bersih. Pendistribusian bantuan air ini berlangsung secara bertahap," ungkap Aam, sapaan Abdul Muhari.
Di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, kekeringan melanda tiga desa di tiga kecamatan, yaitu Belik, Bawang, dan Pulosari. Data sementara BPBD mencatat 166 KK terdampak. BPBD Kabupaten Pemalang telah mendistribusikan 4.000 liter air bersih untuk Desa Pulosari.
Kekeringan juga terjadi di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Sebanyak 42 KK atau 125 jiwa terdampak, dengan desa terdampak meliputi Desa Ketoyan di Kecamatan Wonosegoro dan Desa Samiran di Kecamatan Selo. BPBD Kabupaten Boyolali telah menyalurkan 5.000 liter air kepada warga dua desa tersebut.
Sementara itu, di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, enam desa di lima kecamatan mengalami kekeringan. Kecamatan terdampak meliputi Sekotong, Lembar, Gerung, Kuripan, dan Batu Layar. Total populasi terpapar mencapai 4.245 KK atau 12.008 jiwa. "Pendistribusian air bersih secara bertahap terus dilakukan pemerintah daerah kepada wilayah-wilayah terdampak. Bantuan air bersih tersalurkan sebanyak 84.000 liter," ujar Aam.
Menghadapi bahaya hidrometeorologi kering, BNPB mengimbau warga untuk bijak dalam memanfaatkan air. "Pendistribusian air dengan mobil tangki merupakan penanganan jangka pendek. Apabila masih terjadi peluang hujan, masyarakat dapat memanen air hujan sebagai cadangan air," pungkasnya.
Artikel Terkait
Sejarah Tak Pernah Menunggu: Apakah Mahasiswa Masih Menjadi Aktor Perubahan?
Asisten Pribadi Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco, Publik Sorot Jalur Koneksi
Konggo Kalahkan Uzbekistan 3-1, Korsel Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Bandara Husein Sastranegara Kembali Layani Penerbangan Komersial September 2026, Kertajati Tetap Dioptimalkan