Produsen motor listrik PT Ilectra Motor Group, yang memasarkan merek ALVA, mencatat pertumbuhan permintaan hingga 52 persen secara tahunan sepanjang 2025. Jika pada 2024 angka penjualan mencapai 3.000 unit, maka tahun berikutnya melonjak menjadi 4.500 unit.
Chief Marketing Officer ALVA, Putu Swadita Yudha, menyebutkan bahwa peningkatan ini tidak lepas dari kemampuan perusahaan dalam menghadirkan produk yang lebih sesuai dengan kebiasaan berkendara masyarakat Indonesia. Menurutnya, ada tiga faktor utama yang mendorong adopsi kendaraan listrik: produk yang tepat, infrastruktur dan ekosistem yang memadai, serta edukasi publik yang berjalan.
“Pertama, kalau saya bilang, produknya sendiri, kalau produknya tepat, infrastrukturnya, ekosistemnya tepat, masyarakat teredukasi,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (23/6/2026).
Data dari Research and Development ALVA menunjukkan bahwa pertimbangan utama konsumen saat memilih motor listrik adalah fungsionalitasnya untuk kebutuhan sehari-hari. Mulai dari kemampuan berboncengan hingga membawa barang keperluan rumah tangga menjadi faktor penentu.
Untuk menjawab kebutuhan itu, ALVA merancang motor dengan dek depan rata atau flat deck. Bagian ini tidak sekadar dibuat datar, melainkan telah diukur secara presisi agar kompatibel dengan berbagai barang bawaan.
“Sebagai contoh, ALVA N3 itu kami desain sebagai motor listrik untuk penggunaan utilitas sehari-hari. Makanya, flat deck-nya memang kami sudah ukur, lebarnya galon, lebarnya gas melon. Termasuk kalau misalnya mau bawa koper kecil, hal-hal ini kami ukur, termasuk juga panjang dari joknya dan lebar joknya, tingginya,” jelas Yudha.
Selain aspek utilitas, ALVA juga menyelaraskan pengalaman berkendara motor listrik agar tidak jauh berbeda dengan motor berbahan bakar bensin. Sistem kontrol gas, misalnya, telah dimanajemen arusnya sedemikian rupa sehingga feel atau sensasi saat memutar gas terasa serupa.
“Dengan memanajemen arusnya itu sedemikian rupa supaya feels-nya itu kayak nyetir motor bensin. Jadi memang banyak sih hal-hal yang kecil-kecil yang kita juga ingin orang kalau nyetir motor ALVA itu, rasanya sama kayak motor bensin, minimal sama,” tambah dia.
Dari segi performa, motor listrik ALVA kini juga mampu melaju untuk perjalanan jarak jauh. ALVA N3 misalnya, memiliki kecepatan maksimal 80 km per jam, sementara ALVA Cervo dapat mencapai 103 km per jam.
Persoalan pengisian daya pun mulai teratasi. ALVA telah menyediakan lebih dari 350 konektor di berbagai lokasi, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan akhir 2025 yang hanya sekitar 150 konektor. Jaringan ini diperkuat oleh layanan aftersales, customer service, dan roadside assistance yang siaga 24 jam.
Teknologi Boost Charge menjadi nilai tambah tersendiri. Fitur ini memungkinkan pengisian daya dari 10 persen ke 50 persen dalam waktu kurang dari 25 menit.
“Keberhasilan adopsi motor listrik sangat bergantung pada rasa percaya konsumen. Karena itu, ALVA terus memperkuat titik-titik yang selama ini menjadi perhatian masyarakat, mulai dari jarak tempuh, charging, ketahanan baterai, layanan setelah pembelian, hingga kemudahan kepemilikan,” beber Yudha.
Sejak awal 2022, ALVA telah membangun ekosistem kendaraan listrik terintegrasi dari hulu ke hilir. Investasi jangka panjang yang digelontorkan untuk fondasi ini mencapai lebih dari Rp1 triliun, mencakup produk, infrastruktur pengisian daya, layanan purna jual, serta model kepemilikan yang lebih fleksibel.
Artikel Terkait
Prabowo Soroti Peran Unik TNI dan Polri di Sektor Pertanian: Hanya di Indonesia Aparat Keamanan Turun ke Sawah
Biaya Logistik 14% dari PDB Dinilai Hambat Daya Saing, Pelaku Industri Dorong Konsolidasi
Perwira Polisi Alami Patah Tulang Lutut saat Amankan Aksi Ricuh di Depan DPR
Kadin: Indonesia Berpotensi Jadi Pemain Utama Industri Kendaraan Berbasis Perangkat Lunak Berkat Kekayaan Mineral dan Energi Terbarukan