Mahasiswa Maros Raup Omzet Rp5 Juta per Bulan dari Ternak Ayam Hias

- Senin, 22 Juni 2026 | 10:00 WIB
Mahasiswa Maros Raup Omzet Rp5 Juta per Bulan dari Ternak Ayam Hias

Di tengah derasnya arus mahasiswa yang berburu pekerjaan sampingan demi menopang biaya pendidikan, seorang pemuda di Kabupaten Maros justru menemukan ladang penghasilan dari halaman rumahnya sendiri. Ersa Sahar Reza, mahasiswa asal Kecamatan Bontoa, berhasil membiayai kebutuhan kuliahnya melalui usaha budidaya ayam hias yang kini mampu menghasilkan omzet sekitar Rp5 juta setiap bulan.

Usaha yang dirintisnya berawal dari kegemaran sederhana memelihara unggas hias. Tanpa pernah terbayangkan sebelumnya, hobi tersebut kini menjadi sumber penghasilan tetap yang membantunya melayani pesanan dari berbagai daerah, bahkan hingga ke luar Pulau Sulawesi. “Hasil penjualan sangat membantu memenuhi kebutuhan kuliah,” ujar Ersa saat ditemui pada Minggu (21/6/2026).

Ketertarikan pemuda berusia 25 tahun itu terhadap ayam hias bermula pada 2018. Saat itu, ia melihat berbagai unggahan di media sosial dan memutuskan membeli sepasang anakan American Silki hanya untuk dipelihara sebagai koleksi pribadi. Bentuk tubuh dan bulunya yang tidak biasa menjadi daya tarik utama. Namun, seiring waktu, ayam-ayam tersebut berkembang biak. Ersa kemudian mulai membagikan aktivitas perawatannya melalui media sosial, dan respons yang datang ternyata cukup besar. Banyak pecinta ayam hias bertanya mengenai cara pemeliharaan, hingga akhirnya memesan ayam hasil ternaknya.

Melihat peluang tersebut, Ersa mulai serius mengembangkan budidaya ayam hias. Ia memperbanyak indukan, mempelajari teknik pembiakan, serta meningkatkan kualitas perawatan agar menghasilkan ayam dengan nilai jual lebih tinggi. Saat ini, kandang miliknya dihuni 51 ekor ayam hias, terdiri atas 41 ekor ayam dewasa dan 10 ekor anakan. Selama beberapa tahun terakhir, ratusan ekor ayam hasil penangkarannya telah terjual kepada para penghobi dari berbagai daerah.

Jenis American Silki menjadi primadona di kalangan pembeli. Ayam asal luar negeri tersebut memiliki bulu halus menyerupai kucing anggora sehingga banyak diburu kolektor unggas hias. Selain itu, Ersa juga membudidayakan ayam batik yang memiliki motif bulu khas. Harga jualnya pun beragam. Anakan American Silki usia satu hingga dua minggu dijual mulai Rp75 ribu hingga Rp200 ribu per ekor. Untuk sepasang indukan, harganya berkisar Rp1,5 juta hingga Rp3 juta. Sementara ayam batik dipasarkan dengan harga antara Rp50 ribu sampai Rp100 ribu per ekor.

Pemasaran tidak lagi bergantung pada pembeli sekitar Maros. Media sosial menjadi sarana utama memperluas pasar, disertai keikutsertaan dalam berbagai pameran hewan hias. Berkat strategi tersebut, pesanan datang dari sejumlah daerah di Sulawesi Selatan hingga Maluku dan Batu Licin, Kalimantan.

Meski terlihat eksklusif, Ersa mengatakan perawatan ayam hias sebenarnya cukup sederhana. Kunci utamanya terletak pada kebersihan kandang, pemberian pakan berkualitas, vitamin secara rutin, serta menjaga kondisi bulu agar tetap bersih karena sangat memengaruhi nilai jual. “Selain pemberian pakan pelet dan vitamin secara rutin, ayam juga perlu dimandikan agar kebersihan serta kualitas bulunya tetap terjaga,” pungkasnya.

Bagi Ersa, selain menghasilkan keuntungan finansial, usaha ini juga mengajarkannya tentang konsistensi, kesabaran, dan pemanfaatan media sosial sebagai sarana membangun bisnis.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar