Agen BRILink Bertahan Sejak 2017, Kini Raup Omzet Puluhan Juta per Bulan

- Senin, 22 Juni 2026 | 10:50 WIB
Agen BRILink Bertahan Sejak 2017, Kini Raup Omzet Puluhan Juta per Bulan

Sembilan tahun lalu, ketika banyak orang menolak tawaran menjadi agen BRILink, Ahmad Zaki Mufid justru memilih jalan berbeda. Bermodalkan Rp5 juta dan keyakinan bahwa layanan transaksi perbankan akan menjadi kebutuhan pokok masyarakat, ia memutuskan bertahan di Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang. Keputusan yang diambilnya sejak 2017 itu kini membuahkan hasil manis berupa keberkahan rezeki yang terus mengalir.

Kisah perjalanan Zaki terungkap di sela kesibukannya melayani pelanggan yang datang silih berganti ke kiosnya. Meski hari telah menjelang sore, warga masih berdatangan untuk melakukan berbagai transaksi. Sesekali ia menghentikan ceritanya untuk melayani pelanggan, sebelum kembali menuturkan awal mula merintis usaha Agen BRILink.

Semua bermula pada 2017 ketika BRI Unit Mauk menawarkan program keagenan kepada para nasabah. Zaki langsung tertarik setelah mendapatkan penjelasan dari mantri BRI bahwa agen akan memperoleh keuntungan dari setiap transaksi. Ia pun bergabung untuk menambah penghasilan di samping usaha jual beli tabung gas yang telah dirintisnya lebih dulu.

Namun, perjalanan membangun usaha itu tidaklah mudah. Dengan modal pas-pasan hanya Rp5 juta, Zaki harus menghadapi kenyataan bahwa masyarakat saat itu masih awam terhadap layanan perbankan. Ia pun memfokuskan diri membangun kepercayaan warga melalui sosialisasi dan pelayanan prima.

“Satu tahun pertama itu lumayan fokus membangun kepercayaan, sosialisasi bahwa transfer di sini bisa, menarik di sini bisa, dan lain sebagainya. Dengan modal pas-pasan tadi,” kata Zaki saat berbincang di kiosnya beberapa waktu lalu.

Tak hanya itu, Zaki juga memilih bertahan ketika sebagian orang yang mendapat tawaran serupa justru mundur. Menurutnya, banyak yang tidak sanggup membangun kepercayaan masyarakat terhadap layanan perbankan di kios BRILink yang saat itu masih tergolong baru. “Saya termasuk yang bertahan,” ujarnya.

Lambat laun, upaya Zaki membuahkan hasil. Memasuki 2018, penggunaan layanan transaksi BRILink berkembang lebih pesat seiring pencairan uang bantuan sosial dari pemerintah. “Saya waktu itu memang berkeyakinan bahwa ke depan bisnis transaksi perbankan ini akan sangat dibutuhkan masyarakat, terutama gen-gen milenial. Ketika orang mempunyai keterbatasan waktu, agen perbankan menjadi pilihan yang disukai,” katanya.

Pada masa awal merintis, Zaki hanya melayani sekitar sepuluh transaksi setiap hari dengan keuntungan Rp50 ribu. Namun seiring meningkatnya kepercayaan masyarakat, pendapatan pun bertambah. “Dua tahun berikutnya baru mulai terasa, agak meningkat. Lumayan, kadang Rp100.000, kadang Rp200.000,” ujar dia.

Begitu kepercayaan tumbuh, transaksi pun meningkat menjadi 50 per hari. Selain pencairan bantuan sosial, masyarakat mulai memanfaatkan layanan lain seperti transfer, tarik tunai, pembayaran listrik, hingga pembayaran pinjaman. “Misalkan ada tetangga yang malas ngantri di bank, dititipin di kita buat bayar pinjaman KUR,” ujarnya.

Dalam perjalanannya, usaha Zaki mengalami pasang surut. Ia sempat membuka cabang BRILink di tempat lain, namun hasilnya tak sesuai harapan. “Emang beda kalau dikelola sendiri. Kalau kita yang jadi owner-nya, dikelola sendiri, kayaknya lebih lumayan dibanding buka cabang yang dikelola orang lain,” katanya.

Setelah bertahun-tahun dijalani, usaha agen BRILink memberikan dampak besar bagi ekonomi keluarganya. Pendapatan meningkat sehingga Zaki bisa merenovasi rumah hingga membiayai pendidikan anak-anaknya. “Sangat, sangat membantu sekali buat saya,” ujarnya.

Sambil menunjuk ke arah rumahnya, Zaki bercerita bahwa tempat tinggalnya itu dulu masih berupa bangunan tua. Berkat usaha ini, ia bisa merenovasi total hingga lebih nyaman ditempati. “Berkat BRILink juga alhamdulillah ada tambahan pemasukan. Di samping itu BRI sangat membantu di bagian permodalan. Setiap lunas, BRI nawarin lagi bantuan modal buat ekspansi usaha,” katanya.

Tak hanya berdampak bagi keluarganya, keberadaan agen BRILink juga membantu masyarakat sekitar. Warga tidak perlu lagi antre dan pergi jauh ke kantor bank untuk berbagai transaksi perbankan. Kepercayaan itu tidak terlepas dari upaya Zaki yang konsisten memberikan pemahaman mengenai manfaat layanan BRILink. Ia bahkan memberikan jaminan bahwa uang yang ditransfer akan sampai ke rekening tujuan. “Kita pinter-pinter ngebujuk nasabah bahwa ini pasti nyampe. Kalau enggak pasti nyampe, kita jamin kita balikin lagi duitnya,” ujarnya.

Setelah hampir satu dekade berjalan, jumlah transaksi di kios Zaki mencapai 100 hingga 150 setiap hari. Dari usaha tersebut, ia bisa meraup keuntungan sekitar Rp10 hingga Rp15 juta per bulan. Namun di tengah perkembangan transaksi digital melalui ponsel, Zaki menghadapi tantangan tersendiri. Ia terus mencari cara agar pelanggan tetap datang ke kiosnya. “Makanya itu menjadi tantangan buat kita untuk bisa bertahan. Salah satunya dengan memberikan promosi, hadiah. 20 transaksi dapat minyak,” ujarnya.

Pelayanan yang diberikan Zaki membuat banyak pelanggan setia menggunakan jasanya. Salah satunya Regi (42), warga asal Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang. Ia memilih bertransaksi di kios Zaki lantaran pelayanannya yang baik dan keramahan sang pemilik. “Pelayanannya bagus. Terus kalau lebaran suka dapat bingkisan,” kata Regi. Baginya, keberadaan agen BRILink milik Zaki sangat membantu karena berbagai kebutuhan transaksi dapat dilakukan lebih dekat tanpa perlu pergi jauh ke bank.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags