Mentan Amran Ajak 5.155 Mahasiswa Baru Undip Jadi Garda Terdepan Regenerasi Petani

- Sabtu, 08 Agustus 2026 | 10:00 WIB
Mentan Amran Ajak 5.155 Mahasiswa Baru Undip Jadi Garda Terdepan Regenerasi Petani

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memanfaatkan momen Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Universitas Diponegoro (Undip) Tahun Akademik 2026/2027 untuk berdialog langsung dengan ribuan mahasiswa di Semarang, Kamis (6/8/2026). Dalam forum yang berlangsung interaktif itu, ia menjawab berbagai persoalan mulai dari regenerasi petani, ketahanan pangan, reformasi pupuk, hingga keterlibatan TNI dalam mendukung swasembada pangan.

Dialog tersebut berlangsung saat Amran memberikan kuliah umum di hadapan 5.155 mahasiswa baru Undip. Ia menegaskan bahwa mahasiswa memiliki peran penting sebagai generasi penerus yang akan ikut menentukan masa depan pertanian Indonesia. Menurutnya, pemerintah tengah melakukan pembenahan menyeluruh agar sektor pertanian menjadi semakin modern, menguntungkan, dan menarik bagi generasi muda.

Amran menilai regenerasi petani tidak cukup hanya dengan ajakan moral, tetapi harus dibarengi perbaikan pendapatan, produktivitas, dan kepastian dukungan negara di lapangan. Salah satu pertanyaan yang mengemuka datang dari mahasiswa Fakultas Teknik mengenai keterlibatan TNI dalam program cetak sawah dan pengelolaan lahan pertanian baru. Menjawab hal itu, Amran menegaskan bahwa kehadiran TNI merupakan langkah strategis untuk menjawab tantangan krisis pangan akibat perubahan iklim ekstrem.

"Kita hanya memiliki sekitar 37 ribu penyuluh pertanian lapangan (PPL), sementara kebutuhan mencapai sekitar 50 ribu orang. Karena itu TNI membantu, khususnya Babinsa, bukan pasukan tempur. Mereka membantu percepatan di lapangan agar petani tetap bisa berproduksi menghadapi ancaman El Nino," jelasnya.

Ia menambahkan, pemerintah telah mengerahkan sekitar 80 ribu unit pompa air ke berbagai daerah di Pulau Jawa, termasuk Jawa Tengah, untuk menjaga produksi pangan nasional di tengah ancaman kekeringan. "Kalau krisis ekonomi kita masih bisa bertahan. Tetapi kalau terjadi krisis pangan, dampaknya bisa meluas menjadi krisis sosial dan politik. Karena itu negara harus hadir lebih cepat," ujarnya.

Reformasi Pupuk dan Respons Cepat

Menanggapi pertanyaan mengenai harga pupuk, Amran mengungkapkan bahwa pemerintah berhasil melakukan reformasi besar dalam tata kelola pupuk bersubsidi. "Harga pupuk turun sekitar 20 persen. Ini pertama kali terjadi sejak Republik Indonesia berdiri. Regulasi yang sebelumnya berlapis-lapis kami sederhanakan sehingga distribusi menjadi lebih cepat langsung ke petani," katanya.

Selain deregulasi, pemerintah juga menindak tegas praktik penyimpangan distribusi pupuk yang selama ini merugikan petani. "Kami diperintahkan Bapak Presiden untuk memberantas mafia pupuk dan korupsi. Kasus-kasus yang ditemukan langsung kami serahkan kepada aparat penegak hukum. Petani harus dilindungi," tegasnya.

Saat seorang mahasiswa asal Rembang mengeluhkan keterbatasan sumber air untuk sawah, Amran langsung memerintahkan jajarannya menyiapkan bantuan pompa air dan melakukan pengecekan lapangan. Sementara kepada mahasiswa asal Lombok yang menceritakan perjuangan orang tuanya sebagai petani dengan lahan terbatas, ia langsung memerintahkan pemberian bantuan traktor agar produktivitas usaha tani meningkat.

Dialog juga diwarnai pertanyaan mengenai peluang bisnis bagi generasi muda. Amran mendorong mahasiswa berani memanfaatkan perkembangan teknologi dan transformasi industri. "Kalau saya kembali menjadi mahasiswa hari ini, saya akan memilih bisnis berbasis teknologi digital, termasuk kendaraan listrik. Masa depan dunia akan bergerak ke sana dan Indonesia memiliki sumber daya yang besar untuk mendukungnya," ungkapnya.

Amran menegaskan bahwa kemajuan pertanian Indonesia tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga membutuhkan kontribusi perguruan tinggi, peneliti, mahasiswa, dan seluruh elemen masyarakat. Ia berharap mahasiswa menjadi generasi yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu menghadirkan inovasi dan solusi bagi pembangunan pertanian Indonesia menuju swasembada pangan yang berkelanjutan.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags