Pembicaraan lanjutan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) resmi digelar di Swiss dengan melibatkan Qatar dan Pakistan sebagai mediator. Proses diplomasi ini berlangsung pada siang hari waktu setempat dan menjadi babak baru dalam upaya mencari titik temu di tengah ketegangan yang membayangi kawasan Timur Tengah.
Kementerian Luar Negeri Qatar, dalam pernyataan resminya, mengonfirmasi dimulainya perundingan tersebut. Pemerintah Qatar menyatakan harapan agar pertemuan ini mampu menghasilkan kesepakatan yang menyeluruh dan bersifat permanen.
“Harapannya bahwa pertemuan-pertemuan ini akan mengarah pada kesimpulan perjanjian komprehensif dan permanen yang membahas semua aspek yang tercakup dalam Nota Kesepahaman,” demikian bunyi pernyataan kementerian tersebut.
Berdasarkan laporan yang dikutip dari Al Jazeera, rekaman langsung memperlihatkan anggota delegasi AS memasuki ruang pertemuan di lokasi yang sama. Sejumlah tokoh penting hadir dalam negosiasi tersebut, antara lain Wakil Presiden AS JD Vance, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, serta Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani.
Dalam kesempatan itu, Vance menyampaikan bahwa Presiden AS Donald Trump telah membuka jalan bagi solusi diplomatik di Timur Tengah. Ia menegaskan bahwa pemerintahan Trump berkomitmen untuk mencapai kesepakatan yang bersifat permanen.
“(Trump) memberi kami wewenang untuk menemukan solusi diplomatik untuk sejumlah masalah,” ujar Vance.
“Pertanyaannya adalah apakah kita dapat mengubah hubungan di Timur Tengah secara permanen,” tambahnya.
Artikel Terkait
Prabowo Bahas Peluang Ekonomi Baru dan Percepatan Transformasi BUMN Bersama Rosan Roeslani
Pria di Gowa Terima Kaki Palsu dari Kemensos setelah 11 Tahun Hidup dengan Keterbatasan Akibat Serangan Buaya di Malaysia
Menteri PU Pastikan Dukung Pembangunan Huntara dan Perbaikan Jembatan Pascagempa Sigi
Iran Tutup Selat Hormuz sebagai Respons atas Serangan Israel ke Lebanon Selatan