Perjalanan darat sejauh hampir satu jam dari rumahnya di Dusun Widoro Wetan, Kalurahan Bunder, Kapanewon Patuk, Gunungkidul, menuju sebuah fasilitas kesehatan rujukan di Kalasan, Sleman, telah menjadi agenda tetap yang ia jalani setiap bulan. Ahmad Sugiri (58) harus tiba di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) tersebut untuk menjalani kontrol kesehatan atas benjolan di leher yang didiagnosis sebagai gangguan tiroid.
Rutinitas ini telah berlangsung selama setahun terakhir. “Kata dokter tiroid. Jadi ini saya rutin kontrol di poli penyakit dalam,” ujar Ahmad dalam keterangannya, Rabu (17/6/2026).
Sebagai peserta Program JKN segmen Peserta Pekerja Bukan Penerima Upah dan Bukan Pekerja Pemerintah Daerah (PBPU BP Pemda), Ahmad mengaku mendapatkan sejumlah kemudahan. Salah satu yang paling ia rasakan manfaatnya adalah Aplikasi Mobile JKN, yang memungkinkannya mengambil nomor antrean dari rumah sebelum berangkat ke FKRTL.
Dulu, ia kerap memperoleh nomor antrean tinggi karena harus mendaftar secara langsung di tempat. Kini, dengan bantuan salah satu anaknya, proses pendaftaran menjadi lebih praktis. “Sekarang bisa daftar antrean lewat Aplikasi Mobile JKN. Nomor antreannya bisa di bawah 20, jadi lebih nyaman,” katanya.
Meskipun harus menempuh perjalanan yang cukup jauh, Ahmad tidak pernah keberatan. Menurutnya, manfaat yang ia peroleh jauh lebih besar karena seluruh biaya pengobatan ditanggung oleh Program JKN. “Sejak pertama kali menjadi peserta JKN, saya tidak pernah mengeluarkan biaya untuk berobat sama sekali. Sangat membantu, semua gratis,” jelas ayah empat anak tersebut.
Bantuan itu menjadi sangat berarti setelah ia kehilangan pekerjaan. Sebelumnya, Ahmad bekerja sebagai buruh pabrik di luar kota dan terdaftar sebagai peserta JKN dari perusahaan tempatnya bekerja. Namun, setelah pabrik tersebut tutup, kepesertaannya otomatis berakhir.
Setelah kembali ke Patuk dan mengurus perpindahan penduduk ke Daerah Istimewa Yogyakarta, Ahmad akhirnya kembali terdaftar sebagai peserta JKN pada segmen PBPU BP Pemda. “Alhamdulillah, setelah terdaftar langsung mendapat bantuan iuran dari pemerintah. Saat itu saya memang baru kehilangan pekerjaan, jadi sangat membantu,” ujarnya.
Saat ini, Ahmad masih menjalani kontrol rutin di poli penyakit dalam. Sebelumnya, ia sempat mendapatkan penanganan dari dokter spesialis bedah sesuai rujukan dari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). “Lalu oleh dokter spesialis bedah disarankan ke dokter spesialis penyakit dalam terlebih dahulu. Saya ikut saran dokter saja,” ungkapnya.
Kondisi kesehatannya kini semakin membaik. Benjolan di leher yang sempat mengganggu saat makan mulai menunjukkan perkembangan positif setelah menjalani pengobatan secara rutin. “Dulu saat makan rasanya kurang nyaman. Sekarang sudah jauh lebih baik,” ujarnya.
Setiap kali kontrol, Ahmad mendapatkan empat jenis obat yang harus dikonsumsi secara teratur. Ia mengaku disiplin menjalani pengobatan dan tidak pernah melewatkan jadwal kontrol yang telah ditentukan dokter. Bahkan, jika suatu saat diperlukan tindakan operasi, ia menyatakan siap mengikuti rekomendasi tenaga medis demi kesembuhannya. “Kalau nantinya dokter spesialis bedah menyarankan untuk operasi, saya juga manut. Karena itu pasti juga untuk kebaikan saya,” tutupnya.
Artikel Terkait
Nurul Arifin: Damai AS-Iran Berpotensi Perkuat Ekonomi Indonesia, dari Harga Energi hingga Rupiah
Carlos Franca Resmi Tinggalkan Persijap, Winger Brasil Itu Berpeluang Main di Kualifikasi Liga Champions
Erick Thohir Perkenalkan Pelatih Timnas John Herdman ke Presiden Prabowo di Hambalang
Tiga Direktur Merdeka Copper Gold Mundur Serempak, Tunggu Restu RUPS