Sebuah pesawat pengebom B-52 milik Angkatan Udara Amerika Serikat dilaporkan menukik ke tanah dengan kecepatan lebih dari 1.500 meter per menit saat mengalami kecelakaan di California. Insiden yang terjadi di dalam area pangkalan militer tersebut menewaskan sedikitnya delapan orang, dan penyelidikan atas penyebab jatuhnya pesawat berkemampuan nuklir itu diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan.
Peristiwa nahas itu terjadi pada Senin, 15 Juni waktu setempat, di Pangkalan Angkatan Udara Edwards. Saat itu, pesawat B-52 Stratofortress buatan Boeing sedang menjalani misi rutin sebagai bagian dari program pemeliharaan untuk memastikan pesawat militer yang telah lama beroperasi ini tetap dapat terbang dalam beberapa dekade ke depan. Belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan pesawat tersebut jatuh tak lama setelah lepas landas.
Berdasarkan data pelacakan awal yang dirilis pada Rabu, 17 Juni, pesawat itu tercatat berbelok tajam ke kanan dan hampir menyelesaikan putaran 180 derajat sebelum akhirnya menukik ke tanah. Data dari sistem multilaterasi menunjukkan kecepatan penurunan pesawat mencapai 5.056 kaki atau sekitar 1.541 meter per menit. Angka tersebut hampir sepuluh kali lebih cepat dibandingkan kecepatan penurunan normal saat pesawat bersiap mendarat.
Meskipun data tersebut tidak memberikan informasi ketinggian dan kecepatan secara tepat, catatan penerbangan yang tersedia pada Selasa, 16 Juni, menunjukkan pesawat pengebom itu berbelok ke arah timur laut setelah lepas landas. Pesawat hampir menyelesaikan belokan tajam sebelum akhirnya jatuh di atas landasan pacu lainnya. Otoritas terkait akan melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan ini.
Artikel Terkait
Militer Israel Siap Bertahan Lama di Lebanon Meski Ada Kesepakatan Damai AS-Iran
Ribuan Warga Jakarta Timur Dukung Program Makan Bergizi Gratis Prabowo, Minta Koruptor Ditindak
TAUD Desak Polisi Periksa Dua Eks Anggota BAIS yang Terbukti Siram Air Keras ke Aktivis KontraS
Trump Umumkan Kesepakatan Akhiri Konflik dengan Iran, Pembukaan Selat Hormuz Masih Negosiasi