Anggota DPR Desak Evaluasi Sistem Perekrutan Pembimbing Haji, Soroti Minimnya Pengalaman di Tanah Suci

- Minggu, 24 Mei 2026 | 01:35 WIB
Anggota DPR Desak Evaluasi Sistem Perekrutan Pembimbing Haji, Soroti Minimnya Pengalaman di Tanah Suci

Anggota Tim Pengawas Haji Dewan Perwakilan Rakyat, Nasir Djamil, mendesak agar sistem perekrutan pembimbing ibadah haji segera dievaluasi secara menyeluruh. Menurut politikus dari Partai Keadilan Sejahtera itu, seorang pembimbing tidak cukup hanya menguasai teori, melainkan harus memiliki pengalaman langsung menjalani ibadah umrah atau haji agar mampu mendampingi jamaah di lapangan secara efektif.

Nasir mengungkapkan bahwa banyak pembimbing ibadah yang memahami tata cara haji secara konseptual saat pelatihan manasik, namun kerap menghadapi kesulitan ketika berhadapan dengan kondisi nyata di Tanah Suci. Situasi tersebut, menurut dia, justru membuat jamaah semakin bingung dalam menjalankan rangkaian ibadah.

“Kadang ada pembimbing yang tahu teori saat manasik, tapi ketika melihat realitas di lapangan berbeda. Itu membuat jamaah juga kebingungan,” kata Nasir dalam keterangan resminya, Sabtu (23/5/2026).

Karena itu, ia menegaskan bahwa pembimbing ibadah minimal pernah menunaikan umrah atau haji sebelumnya. Pengalaman langsung tersebut dinilai krusial agar pembimbing lebih siap dan tanggap mendampingi jamaah selama berada di Arab Saudi. “Ke depan diharapkan tidak ada lagi pembimbing yang belum pernah ke Tanah Suci,” lanjut Nasir.

Di sisi lain, anggota Timwas Haji DPR itu juga menyoroti ketimpangan antara jumlah pembimbing dan jumlah jamaah haji. Minimnya tenaga pembimbing membuat banyak jamaah kesulitan mengikuti rangkaian ibadah, terutama saat menjalani umrah pertama di Makkah. Akibatnya, jamaah kerap terpencar saat tawaf dan sai sehingga tidak dapat beribadah dengan khusyuk.

“Pembimbing ibadah ini memang masih minim sekali. Ketika jamaah tiba di Makkah dan melaksanakan umrah, mereka tidak fokus dan terpencar-pencar,” ungkapnya.

Nasir turut menekankan pentingnya pembinaan jamaah menjelang fase Armuzna, yakni rangkaian ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Menurut dia, banyak jamaah belum memiliki pola aktivitas yang terarah sehingga berisiko mengalami kelelahan saat puncak ibadah haji. Ia menyarankan agar jamaah dipersiapkan secara fisik dan spiritual beberapa hari sebelum wukuf di Arafah.

“Kalau bisa ada kegiatan seperti olahraga ringan, bimbingan ibadah, dan penguatan mental agar jamaah benar-benar siap lahir batin,” kata dia.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar