Gus Ipul Usul Pesantren Ploso Jadi Lokasi Munas dan Konbes NU 2026, Pembukaan di Makam Syaikhona Kholil

- Kamis, 21 Mei 2026 | 22:40 WIB
Gus Ipul Usul Pesantren Ploso Jadi Lokasi Munas dan Konbes NU 2026, Pembukaan di Makam Syaikhona Kholil

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul, mengusulkan Pondok Pesantren Al Falah Ploso di Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, sebagai lokasi penyelenggaraan Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Alim Ulama NU pada 2026 mendatang. Usulan ini disampaikan dalam Rapat Pleno PBNU yang digelar di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta. Menurut Gus Ipul, Ploso dinilai layak karena memiliki akar sejarah yang kuat, tradisi keilmuan yang mapan, serta kedudukan penting dalam khazanah pesantren di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Gus Ipul menjelaskan bahwa gagasan tersebut merupakan tindak lanjut dari usulan yang sebelumnya disampaikan oleh KH Nurul Husna Djazuli dan Gus Muhammad Alkautsar. Keduanya menginginkan agar agenda permusyawaratan ulama NU tersebut digelar di Pesantren Ploso. “Kami bertemu dengan KH Huda (Nurul Huda Djazuli) dan Gus Kautsar. Beliau berpesan dan siap Ploso dijadikan lokasi Munas dan Konbes,” kata Gus Ipul dalam keterangan tertulis, Kamis (21/5/2026).

Selain Ploso, Gus Ipul juga mengusulkan agar rangkaian pembukaan Munas dan Konbes Alim Ulama NU 2026 dilaksanakan di kawasan makbarah (makam) Syaikhona Muhammad Kholil di Bangkalan, Madura. Menurutnya, gagasan ini penting sebagai bentuk tabarruk, penghormatan, dan penyambungan sanad perjuangan NU kepada salah satu maha guru para ulama Nusantara. Dengan skema tersebut, pembukaan dapat diawali dari Makbaroh Syaikhona Kholil sebagai simbol penghormatan kepada akar spiritual dan keilmuan NU, sementara rangkaian sidang, pembahasan, dan forum permusyawaratan akan dilanjutkan di Pondok Pesantren Ploso, Kediri.

Gus Ipul menekankan bahwa Munas dan Konbes Alim Ulama merupakan forum strategis bagi NU untuk merumuskan pandangan keagamaan, kebangsaan, dan organisasi. Oleh karena itu, pelaksanaannya perlu ditempatkan di lokasi yang memiliki kekuatan simbolik, tradisi keilmuan, serta kedekatan historis dengan dunia pesantren. “Pesantren Ploso memiliki kelayakan untuk menjadi tuan rumah karena selama ini dikenal sebagai salah satu pesantren besar yang melahirkan banyak ulama, kiai, dan kader NU. Selain itu, Ploso juga memiliki tradisi keilmuan yang kuat dan menjadi salah satu pusat rujukan pesantren di Jawa Timur,” tuturnya.

Sementara itu, Makbaroh Syaikhona Kholil Bangkalan memiliki makna historis dan spiritual yang sangat kuat bagi Nahdlatul Ulama. Syaikhona Kholil dikenal sebagai guru dari para pendiri NU dan menjadi salah satu mata rantai penting dalam tradisi keilmuan pesantren. Pembukaan Munas dan Konbes di Bangkalan diharapkan menjadi penanda bahwa keputusan-keputusan besar NU tetap berpijak pada sanad keilmuan, adab, dan ruh perjuangan para masyayikh. Meski demikian, Gus Ipul menegaskan bahwa usulan tersebut masih akan dibahas lebih lanjut bersama jajaran PBNU, dan keputusan akhir akan ditetapkan melalui mekanisme organisasi.

Dalam rapat pleno yang sama, Gus Ipul juga menyampaikan perkembangan terkait usulan lokasi Muktamar Ke-35 NU. Secara resmi, terdapat tiga Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) yang telah mengajukan diri sebagai calon tuan rumah, yakni Jakarta, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Sumatera Barat. “Secara resmi ada tiga wilayah yang mengusulkan, satu Jakarta, dua NTB, tiga Sumatra Barat, dan terakhir ada Jawa Timur,” katanya.

Menurut Gus Ipul, NTB menjadi wilayah yang paling aktif menunjukkan kesiapan. Dukungan tidak hanya datang dari PWNU setempat, tetapi juga dari pemerintah daerah, termasuk dukungan resmi dari gubernur. “Gubernurnya juga ikut memberikan dukungan resmi,” ujar Ketua Panitia Pelaksana Munas-Konbes dan Muktamar Ke-35 NU itu. Sementara itu, Sumatera Barat telah menyampaikan usulan resmi, meskipun komunikasi dan dukungannya belum seintens NTB. Adapun Jakarta disebut telah mengirimkan surat resmi, tetapi belum diikuti koordinasi lanjutan.

Di luar tiga wilayah tersebut, Jawa Timur mulai diperbincangkan sebagai calon lokasi. Gus Ipul menyebut beberapa pesantren dan daerah di Jawa Timur juga muncul dalam pembicaraan, antara lain Lirboyo, Bangkalan, dan Situbondo. Namun, khusus untuk Munas dan Konbes Alim Ulama 2026, Pesantren Ploso menjadi salah satu lokasi yang diusulkan dan patut dipertimbangkan serius oleh PBNU, dengan pembukaan yang diusulkan berlangsung di dekat Makbaroh Syaikhona Kholil Bangkalan. “Yang paling seru itu adalah Jawa Timur. Meskipun ini tidak ada surat resmi, tapi ada beberapa wacana yang dikembangkan di sana untuk siap menjadi tuan rumah,” tutupnya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar