Seorang perempuan berusia 70 tahun asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, bernama Jumariah, mencuri perhatian dunia sebagai ikon haji tahun ini. Kisah perjuangannya menabung selama lebih dari dua dekade untuk berangkat ke Tanah Suci menjadi sorotan setelah viral di media sosial. Jumariah, yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani, membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak mampu memadamkan tekad untuk menunaikan rukun Islam kelima.
Kehidupan Jumariah jauh dari kata mewah. Ia tinggal seorang diri di sebuah rumah kayu sederhana yang dikelilingi hamparan sawah di Maros. Setiap hari, sebelum fajar menyingsing, ia sudah bangun untuk memberi makan ayam, menyapu halaman, mengambil air, dan mencuci pakaian. Setelah itu, ia berangkat ke sawah dan kebun untuk bekerja hingga matahari terbenam. Tangannya yang kasar menjadi saksi bisu perjuangan membersihkan rumput liar dan merawat tanaman tanpa kenal lelah. Malam harinya, ia pulang dan mengakhiri hari dengan doa-doa panjang.
Keinginan untuk berhaji telah lama bersemayam di hatinya. Jumariah mewujudkannya dengan menabung sedikit demi sedikit dari hasil bertani dan mencari hasil bumi di gunung. “Kalau saya dapat uang Rp100 ribu, saya simpan Rp50 ribu,” ujarnya. Uang tabungan itu disimpannya dalam sebuah ember plastik di rumah kayunya. Selama lebih dari 20 tahun, ia mengumpulkan dana hingga mencapai Rp25 juta, cukup untuk biaya pendaftaran awal haji. Pada 2011, Jumariah akhirnya resmi mendaftar, dan setelah menunggu selama 15 tahun, ia pun berangkat ke Tanah Suci pada 2026.
Perjalanan menuju Arab Saudi menjadi pengalaman pertama baginya. Sebelumnya, perjalanan terjauh Jumariah hanya sampai Kendari untuk menjenguk keluarganya. Naik pesawat untuk pertama kalinya sempat membuatnya ragu dan takut. “Pertama, saya agak ragu. Takut. Tapi lama-lama, ya sudah baik. Makanan di pesawat juga cocok,” katanya. Perjalanan haji Jumariah dipermudah melalui layanan Makkah Route, hasil kerja sama pemerintah Indonesia dengan Kementerian Haji Arab Saudi. Layanan ini memungkinkan proses imigrasi dilakukan sejak di bandara embarkasi Indonesia, sehingga jamaah tidak perlu antre panjang saat tiba di Tanah Suci. Bagi jamaah lanjut usia seperti Jumariah, fasilitas ini dinilai sangat membantu menjaga kondisi fisik dan mental tetap prima.
Setibanya di Madinah, ketangguhan Jumariah kembali teruji. Ia mampu berjalan ratusan meter dari hotel menuju Masjid Nabawi tanpa mengeluh. Pembimbing ibadah dan rekan satu rombongannya pun kagum melihat semangatnya. Namun, momen paling emosional terjadi ketika Jumariah pertama kali melihat Ka'bah di Makkah. Ia menangis haru saat menyaksikan langsung bangunan suci itu di hadapannya. “Kenapa saya bisa di sini? Saya orang miskin...” ucapnya dengan suara bergetar.
Jumariah sebenarnya memiliki keinginan besar untuk mencium Hajar Aswad. Namun, petugas dan pendamping memintanya menunda niat tersebut demi menjaga keselamatan dan kesehatannya, mengingat usianya yang lanjut dan padatnya jamaah. Pendampingan dari Kementerian Haji dan Umrah RI membuat Jumariah dapat menjalankan ibadah dengan aman dan nyaman. Menjelang puncak ibadah haji, kondisi fisik dan mentalnya tetap kuat dan penuh semangat.
Kisah Jumariah kini menjadi simbol keteguhan hati dan perjuangan jamaah haji Indonesia pada musim haji 2026. Tabungannya di ember plastik selama puluhan tahun menjadi inspirasi tentang kekuatan niat dan kesabaran dalam meraih impian. “Saya berdoa, mudah-mudahan bisa kembali lagi...” katanya, menutup percakapan dengan harapan yang tak pernah padam.
Artikel Terkait
Veda Ega Pratama Tembus Posisi Kedelapan di Moto3 Catalunya, Naik ke Peringkat Lima Klasemen
Jakarta Barat Gelar Sterilisasi Kucing Gratis untuk 200 Ekor, Target Tekan Populasi Hewan Liar
Arus Balik Libur Kenaikan Yesus Kristus, Jasa Marga Prediksi 189 Ribu Kendaraan Masuk Jabotabek
DPRD Jabar Kritisi Milangkala Tatar Sunda 2026: Dinilai Ahistoris dan Boros Anggaran Rp2,7 Miliar