Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melakukan kunjungan kerja ke sejumlah industri manufaktur utama di Minsk, Belarus, pada Kamis (14/5/2026), sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan dan industrialisasi nasional. Langkah ini merupakan rangkaian dari Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-8 Indonesia–Belarus sekaligus strategi untuk mengoptimalkan perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia.
Pemerintah menilai pentingnya pemetaan produk strategis di kawasan Eurasia yang dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri, khususnya di sektor alat berat dan teknologi pertanian modern. Belarus dipandang sebagai mitra yang kompeten karena kontribusi sektor manufakturnya mencapai 20,3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) serta tingkat swasembada pangan yang mencapai 96 persen.
“Kami melihat perusahaan-perusahaan Belarus berpengalaman dalam memproduksi berbagai macam produk alat berat, terutama yang dapat memperkuat industrialisasi, mekanisasi pertanian modern, serta pengembangan industri alat berat di Indonesia,” ujar Airlangga dalam keterangannya, Jumat (15/5/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Airlangga mendatangi Minsk Tractor Works (MTZ) untuk meninjau teknologi traktor yang dinilai dapat mendukung program food estate dan meningkatkan produktivitas pertanian nasional. Pihak MTZ menyatakan kesiapan untuk melakukan kustomisasi alat sesuai kebutuhan Indonesia, termasuk menawarkan transfer teknologi dan pelatihan bagi tenaga kerja lokal.
Langkah ini sejalan dengan Asta Cita Presiden yang menargetkan ketahanan pangan melalui modernisasi alat dan mesin pertanian (alsintan) yang efisien. Selain itu, dalam pertemuan tersebut juga dijajaki studi pengembangan singkong (cassava) menjadi etanol serta penggunaan baterai nikel pada alat pertanian.
Kunjungan dilanjutkan ke MAZ (Minsk Automobile Plant) dan BelAZ Holding Management Company. Di MAZ, pembicaraan difokuskan pada pengembangan bus dan kendaraan komersial rendah emisi, termasuk peluang perakitan lokal (local assembly). Sementara itu, di BelAZ, diskusi mendalam dilakukan mengenai penyediaan dump truck untuk sektor pertambangan.
Mengingat Indonesia mengekspor sekitar 800 juta ton batu bara per tahun, kebutuhan akan kendaraan angkut yang berkelanjutan menjadi prioritas. Indonesia pun menawarkan kerja sama rantai pasok ban kendaraan berat berbasis karet alam (natural rubber) serta penggunaan baterai nikel untuk meningkatkan kinerja kendaraan tambang.
Meskipun potensi kerja sama dinilai sangat besar, Airlangga mencatat adanya kendala berupa sulitnya akses informasi mengenai kebutuhan spesifik alat berat di Indonesia bagi pihak Belarus. Untuk mengatasi hal tersebut, kedua negara sepakat melakukan pemetaan kebutuhan bersama dan meningkatkan forum konsultasi reguler antara pelaku industri.
Kunjungan ke tiga raksasa industri Belarus ini diharapkan dapat memperkuat hasil SKB ke-8 serta menjadi fondasi penting bagi rencana kunjungan Presiden Belarus ke Indonesia di masa mendatang. Turut mendampingi dalam kunjungan tersebut Duta Besar RI untuk Federasi Rusia dan Belarus Jose Tavares, Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso, serta perwakilan Kadin dan Apindo.
Artikel Terkait
AS Pertimbangkan Cabut Gugatan terhadap Adani Usai Tawaran Investasi Rp 160 Triliun
Polisi Berlakukan One Way ke Jakarta di Jalur Puncak, Arus Balik Wisatawan Mulai Meningkat
Harga Tiket Pesawat Domestik Diprediksi Naik Tajam Usai Pemerintah Izinkan Fuel Surcharge Hingga 50 Persen
Libur Kenaikan Yesus Kristus 2026, Lebih dari 6.200 Wisatawan Padati Kepulauan Seribu