Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,98 persen ke level 6.723 pada perdagangan Rabu, 13 Mei 2026. Pelemahan ini terjadi setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan rebalancing, namun tekanan terhadap indeks dinilai masih relatif terbatas di tengah kekhawatiran pasar akan potensi penghentian perdagangan atau trading halt.
Dalam pengumuman tersebut, MSCI mencoret total 19 saham dari indeksnya, baik dari kategori Global Standard maupun Small Cap. Salah satu yang menonjol adalah saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) yang mengalami penurunan kelas atau downgrade. Untuk kategori Global Standard, saham-saham yang dihapus antara lain PT Barito Renewables Energi Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).
Pasca pengumuman, saham BREN langsung jatuh 11,4 persen ke level Rp3.200, sementara DSSA anjlok 11,2 persen ke Rp1.035. Pelemahan lanjutan pada kedua saham tersebut mencerminkan distribusi yang kuat, sebagai respons atas potensi keluarnya dana investor asing dari pasar domestik.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai bahwa pelaku pasar sebenarnya telah mengantisipasi pengumuman MSCI melalui upaya repricing lebih awal. Efek kejut dari pengumuman tersebut, menurutnya, tidak sebesar periode-periode sebelumnya.
“Kondisi IHSG yang hanya melemah mendekati 2 persen juga menandakan bahwa tekanan tidak sepenuhnya berasal dari MSCI semata. Faktor eksternal justru masih sangat dominan mempengaruhi psikologi pasar global maupun domestik,” ujarnya pada Jumat, 15 Mei 2026.
Menurut Hendra, tekanan terhadap IHSG justru lebih banyak datang dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Selain itu, harga minyak mentah dunia yang kembali menyentuh area USD100 per barel akibat meningkatnya tensi geopolitik global turut memperburuk sentimen pasar.
Kombinasi kedua faktor ini memunculkan kekhawatiran terhadap pelebaran defisit transaksi berjalan dan tekanan fiskal yang akan dihadapi Indonesia ke depan. Ketika harga minyak naik tinggi di tengah pelemahan rupiah, beban impor energi dan subsidi berpotensi meningkat secara signifikan.
Dia menekankan bahwa kekhawatiran tersebut membuat investor asing cenderung lebih berhati-hati terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Dalam situasi dolar AS yang masih kuat dan imbal hasil obligasi AS yang tetap tinggi, aliran dana global lebih banyak bergerak menuju aset-aset safe haven.
“Akibatnya, tekanan jual asing di pasar saham domestik masih cukup besar. Jadi pelemahan IHSG saat ini sejatinya merupakan kombinasi antara sentimen MSCI, tekanan eksternal global, pelemahan rupiah, lonjakan harga minyak, dan aksi profit taking menjelang libur panjang,” tuturnya.
Hendra mengakui bahwa MSCI tetap menjadi pemicu utama di level mikro pasar saham. Namun, kekhawatiran makroekonomi saat ini justru menjadi faktor yang memperbesar tekanan psikologis investor secara keseluruhan.
“Secara teknikal, keluarnya enam emiten dari MSCI memang berpotensi memicu arus keluar dana asing pasif karena banyak fund manager global wajib menyesuaikan portofolionya mengikuti komposisi indeks MSCI. Namun tekanan forced selling tersebut sifatnya lebih jangka pendek dan biasanya terjadi mendekati effective date pada akhir Mei,” kata Hendra.
Setelah fase penyesuaian selesai, pasar umumnya mulai kembali mencari keseimbangan baru. Oleh karena itu, menurut Hendra, pelemahan tajam pada sesi perdagangan terakhir pekan ini belum tentu menjadi awal dari tren bearish yang berkepanjangan, melainkan lebih mencerminkan proses normalisasi valuasi dan penyesuaian bobot asing.
Untuk prospek ke depan, Hendra memperkirakan IHSG masih berpeluang mengalami tekanan dan menguji area psikologis 6.700, bahkan support berikutnya di kisaran 6.585. Namun, apabila tensi geopolitik mulai mereda, harga minyak kembali stabil, dan tekanan MSCI selesai setelah rebalancing akhir Mei, maka peluang rebound tetap terbuka.
“Investor saat ini cenderung menunggu kepastian arah rupiah, pergerakan harga komoditas energi, dan stabilitas aliran dana asing sebelum kembali agresif masuk ke pasar saham Indonesia,” katanya.
Artikel Terkait
Netflix Rilis Drama Korea ‘Teach You a Lesson’ yang Soroti Krisis Pendidikan di Sekolah
Tabungan Rp116 Juta Guru Honorer di Muaro Jambi Lenyap Diduga Digelapkan Biro Perjalanan Umrah
Polisi Bangkalan Bongkar Jaringan Curanmor, Tiga Pelaku Ditangkap Satu Buron
Gubernur Kaltara Temui Korban Penyekapan di Makassar, Desak Polisi Buru Pelaku Residivis