Trump dan Xi Bahas Lima Isu Kunci, dari Taiwan hingga Perang Iran, dalam Kunjungan Bersejarah ke Beijing

- Kamis, 14 Mei 2026 | 23:20 WIB
Trump dan Xi Bahas Lima Isu Kunci, dari Taiwan hingga Perang Iran, dalam Kunjungan Bersejarah ke Beijing

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memulai kunjungan kenegaraannya ke China dengan nada bersahabat. Dalam pertemuan yang berlangsung di Beijing, Trump menyebut Presiden China Xi Jinping sebagai seorang teman dan berjanji bahwa hubungan kedua negara akan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Kunjungan ini merupakan yang pertama dalam hampir satu dekade dan terjadi di tengah ketegangan geopolitik yang melanda kawasan.

Sikap Xi Jinping, meskipun tetap diplomatis, tampak lebih hati-hati. Ia menyampaikan harapan agar kedua negara dapat menghindari konflik, seraya menyinggung konsep “Thucydides Trap” sebuah istilah yang merujuk pada kecenderungan konflik ketika kekuatan yang sedang bangkit menantang kekuatan yang sudah mapan. Dalam pertemuan tersebut, setidaknya ada lima isu utama yang menjadi agenda pembahasan kedua pemimpin.

Isu pertama adalah perang di Iran. Trump mendesak China untuk menekan Teheran agar bersedia kembali ke meja perundingan damai dan membuka kembali Selat Hormuz. Selama ini, Beijing cenderung bersikap sebagai pengamat ketika AS berhadapan dengan Iran, setidaknya secara terbuka. Namun, dengan sekitar setengah dari total impor minyak mentah China melewati selat tersebut, Xi tentu berkepentingan agar jalur pelayaran itu tetap aman. China pun sadar bahwa ekspornya akan terpukul jika krisis pasokan minyak memicu resesi global. Situasi semakin rumit setelah AS menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah perusahaan China yang dituduh membantu pengiriman minyak Iran dan menyediakan citra satelit untuk operasi militer Iran. Beijing membantah tuduhan itu. Kedatangan Trump sendiri terjadi tak lama setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, berkunjung ke Beijing pekan lalu.

Isu kedua adalah Taiwan. Beijing ingin menekan Washington terkait kebijakan senjata ke pulau yang diklaim China sebagai wilayahnya, meskipun tidak pernah diperintah langsung. Pada Desember lalu, Trump menyetujui paket penjualan senjata senilai 11 miliar dolar AS untuk Taiwan yang terbesar dalam sejarah namun hingga kini belum ada pengiriman. Xi kemungkinan akan mendorong perubahan dalam cara AS menyebut Taiwan. Dari sudut pandang Beijing, idealnya Washington menyatakan “menentang” kemerdekaan Taiwan, bukan sekadar “tidak mendukung”. Taiwan sendiri diperkirakan akan memantau situasi ini dengan cermat. Dua pekan lalu, Menteri Luar Negeri China dalam percakapan dengan Marco Rubio mendesak AS untuk “membuat pilihan yang tepat” terkait Taiwan. Mantan juru bicara Departemen Luar Negeri dan Pentagon, John Kirby, mengingatkan bahwa pembahasan soal Taiwan harus sangat presisi karena risikonya sangat tinggi, terutama mengingat Trump dikenal kerap bertindak di luar skenario.

Isu ketiga menyangkut kecerdasan buatan (AI). China dan AS saat ini tengah bersaing dalam bidang teknologi yang menyerupai “perang dingin teknologi”. Pada April lalu, Gedung Putih menuduh China mencuri kekayaan intelektual laboratorium AI AS dalam skala industri, tuduhan yang dibantah Beijing. Di sisi lain, China merasa frustrasi karena AS membatasi ekspor chip canggih Nvidia. Pada Januari, AS menyatakan Nvidia boleh mengekspor chip kelas kedua (H200), tetapi belum ada pengiriman. Para analis dan pakar etika berharap Trump dan Xi akan membahas pedoman AI yang tidak mengikat, termasuk berbagi informasi tentang penyalahgunaan dan keamanan AI. Hal ini dinilai penting di tengah meningkatnya penggunaan AI dalam sektor militer.

Isu keempat adalah perdagangan bilateral. Trump berulang kali mengancam China dalam isu perdagangan, bahkan sempat mengenakan tarif di atas 140 persen tahun lalu. Namun, Xi tidak menyerah. China justru membatasi ekspor mineral tanah jarang dan magnet ke AS. Pada akhirnya, Trump melunak. AS juga telah menghabiskan banyak persenjataan dalam perang melawan Iran, sementara banyak komponen senjata bergantung pada mineral penting yang rantai pasokannya didominasi China. China diperkirakan akan mengumumkan pembelian pesawat Boeing, produk pertanian, dan energi dari AS. Sebagai imbalannya, Beijing menginginkan pelonggaran pembatasan ekspor semikonduktor canggih. China juga ingin mengurangi hambatan investasi di AS dan berharap dapat membentuk lembaga investasi setara dengan Board of Trade yang didukung Trump.

Isu kelima adalah fentanyl. Narkotika sintetis ini menjadi salah satu agenda utama Trump dalam kunjungannya. AS telah lama menuduh perusahaan China memasok bahan kimia prekursor kepada kartel Meksiko yang digunakan untuk memproduksi narkotika. Bagi Trump, menekan China soal fentanyl juga penting secara politik domestik. Namun, Trump kehilangan sebagian pengaruhnya setelah China menolak tekanan tarif. Pada Maret lalu, AS dan China berselisih soal fentanyl dan perdagangan dalam pertemuan PBB. China ingin dihapus dari daftar tahunan Departemen Luar Negeri AS sebagai “negara transit atau produsen narkoba ilegal utama”, yang akan diperbarui pada September mendatang.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar