Kementerian Haji dan Umrah melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi tengah menggelar transformasi besar-besaran dalam pelayanan jamaah haji untuk musim 1447 H/2026 M, dengan sektor konsumsi menjadi salah satu fokus utama yang mengalami pembaruan masif. Inovasi ini tidak hanya menyentuh aspek teknologi digital, tetapi juga peningkatan standar gizi, yang dirancang khusus untuk menjaga kebugaran ratusan ribu jamaah menjelang puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Perubahan paling mencolok pada penyelenggaraan tahun ini adalah integrasi seluruh ekosistem katering ke dalam sistem digital. Pengelolaan data konsumsi, mulai dari pencatatan distribusi, pemantauan jumlah porsi, hingga verifikasi layanan, kini berjalan secara seketika atau real-time. Sistem cerdas ini dinilai sangat membantu mempercepat koordinasi dan penanganan kendala logistik di lapangan secara presisi.
“Pada tahun ini pengelolaan data konsumsi mulai terintegrasi secara digital, mulai dari pencatatan distribusi, monitoring jumlah porsi, hingga verifikasi layanan,” ujar Kepala Bidang Konsumsi PPIH Arab Saudi, Indri Hapsari, kepada Tim Media Center Haji (MCH).
Kehadiran teknologi tersebut menjadi sangat vital mengingat PPIH harus mengelola distribusi dari 51 dapur penyedia menuju 177 hotel yang dihuni 527 kloter jamaah di Makkah. Pengawasan ketat yang dilakukan terbukti membuahkan hasil yang terkendali. Hingga saat ini, sistem mencatat lebih dari 1.193.534 boks makanan telah sukses didistribusikan ke tangan jamaah tanpa kendala berarti.
Di sisi lain, kualitas isi piring jamaah juga mengalami perbaikan yang signifikan. Penyusunan menu tahun ini dilakukan dengan perhitungan matang yang memperhatikan keseimbangan gizi dan penyesuaian cita rasa khas Nusantara. Variasi lauk-pauk sengaja diperkaya agar jamaah tidak mudah merasa jenuh dan tetap memiliki selera makan yang tinggi.
“Penyusunan menu dilakukan dengan memperhatikan keseimbangan gizi, variasi lauk, dan penyesuaian selera jamaah haji Indonesia,” kata Indri.
Langkah ekstra juga diambil pemerintah dengan menyuntikkan tambahan nutrisi pelengkap di luar makanan utama harian. Setiap jamaah kini secara rutin mendapatkan tambahan susu, buah-buahan segar, dan air mineral.
Sementara itu, fokus pelayanan konsumsi saat ini mulai diarahkan pada persiapan krusial di fase puncak haji. Setibanya jamaah di Arafah nanti, mereka akan langsung disambut dengan tiga botol air mineral sebagai minuman pembuka. Selama menjalani wukuf di Arafah pada 8 hingga 9 Dzulhijjah, jamaah akan mendapatkan jaminan maksimal lima kali makan penuh.
Sebelum pergerakan malam menuju Muzdalifah, sebuah paket kelengkapan konsumsi tambahan juga akan didistribusikan sebagai bekal energi jamaah. Sesampainya di Mina untuk melontar jumrah, layanan logistik kembali dimaksimalkan. Mulai tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah, jamaah akan diberikan suplai makanan maksimal sebanyak sepuluh kali agar kondisi fisik mereka tetap terjaga dan optimal.
Artikel Terkait
Parkir Blok M Square Kembali Beroperasi Usai Disegel, Warga Harap Pengelolaan Lebih Tertib
178 Lapak PKL di Mariso Makassar Ditertibkan, Sebagian Dibongkar Sendiri Usai Tiga Kali Ditegur
Menteri Pertanian Targetkan Stok Beras Pemerintah Capai 5,5 Juta Ton pada Akhir Mei 2026
Tiga Klub Besar Super League Berebut Bek PSM Aloisio Neto, Bali United Juga Incar Bart Straalman