Sebanyak lebih dari 30 pemangku kepentingan di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, mengikuti simulasi penanganan tumpahan minyak akibat kecelakaan kapal pada Selasa (12/5/2026). Latihan yang digelar Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Utama Tanjung Priok ini dirancang untuk menguji kesiapsiagaan dan respons cepat seluruh ekosistem pelabuhan dalam menghadapi kondisi darurat yang berpotensi mengganggu arus logistik nasional.
Skenario yang digunakan dalam simulasi adalah tabrakan antarkapal akibat gangguan mesin atau engine failure yang kemudian memicu pencemaran minyak di kolam pelabuhan. Kepala KSOP Utama Tanjung Priok, Kapten Heru Susanto, menegaskan bahwa latihan ini bukan sekadar formalitas, melainkan langkah strategis untuk memastikan koordinasi yang solid antarpihak.
“Sebagai regulator, peran kami bukan hanya menetapkan aturan, tetapi memastikan seluruh ekosistem pelabuhan bergerak dalam satu irama ketika krisis terjadi,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima pada hari yang sama.
Menurut Heru, kecepatan dan keterpaduan respons menjadi krusial mengingat Tanjung Priok merupakan salah satu pusat arus logistik dan perdagangan internasional Indonesia. Gangguan sekecil apa pun di pelabuhan ini dapat berdampak luas pada rantai pasok nasional.
Simulasi yang dinamakan Joint Exercise Business Continuity Management System (BCMS) Tumpahan Minyak itu melibatkan regulator, operator terminal petikemas internasional, terminal energi, terminal multipurpose, hingga fasilitas logistik. Selain menguji respons terhadap tumpahan minyak, latihan ini juga mengevaluasi sistem komando kedaruratan, koordinasi lintas terminal, aktivasi pusat kendali (command center), pengamanan alur pelayaran, serta langkah pemulihan operasional pascainsiden.
KSOP Tanjung Priok menyebut latihan ini merupakan bagian dari implementasi BCMS yang disusun bersama Pelindo Regional 2 dan para pemangku kepentingan pelabuhan lainnya. Ketua Tim Penyusun BCMS Pelabuhan Tanjung Priok, Tedy Herdian, menjelaskan bahwa dokumen BCMS memuat delapan skenario risiko kritikal yang menjadi acuan utama pengelolaan keberlangsungan operasional pelabuhan.
“Dokumen BCMS menetapkan delapan skenario risiko kritikal sebagai acuan utama pengelolaan keberlangsungan operasional pelabuhan, yakni pandemi kesehatan, terorisme, kerusuhan massa, kebakaran besar, tumpahan minyak, kemacetan logistik parah, gangguan kelistrikan, serta bencana alam,” katanya.
Tedy menambahkan bahwa dokumen tersebut bersifat dinamis dan akan terus dikembangkan sesuai dengan perkembangan risiko, kompleksitas operasional pelabuhan, serta tantangan rantai pasok global. Dengan demikian, kesiapsiagaan Tanjung Priok dalam menghadapi berbagai skenario darurat diharapkan dapat terus ditingkatkan.
Artikel Terkait
Siswi MI di Karawang Ditemukan Usai Kabur Empat Hari Bersama Kekasih, Polisi Ungkap Motif Keberatan Masuk Ponpes
OJK Pantau DPK Valas, Sebut Peningkatannya Masih Wajar dan Stabilitas Perbankan Terjaga
Laba Superbank Melonjak 1.528 Persen Hingga April 2026, Didorong Ekspansi Ekosistem Digital
Polisi Belum Temukan Bukti Valid Dugaan Pedofilia Libatkan WNA Jepang di Blok M