Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS di Tengah Penguatan Dolar dan Lonjakan Harga Minyak

- Selasa, 12 Mei 2026 | 12:01 WIB
Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS di Tengah Penguatan Dolar dan Lonjakan Harga Minyak

Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali berlanjut pada perdagangan Selasa (12/5/2026), di mana mata uang Garuda tercatat menembus level psikologis Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) di awal sesi. Pelemahan ini terjadi di tengah menguatnya indeks dolar AS dan lonjakan harga minyak mentah dunia yang turut membebani pergerakan pasar keuangan domestik.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah bergerak turun sekitar 0,57 persen dan berada di posisi Rp17.513 per dolar AS. Angka tersebut melanjutkan tren pelemahan yang sudah terjadi sejak penutupan perdagangan sebelumnya, saat rupiah ditutup di level Rp17.414 per dolar AS. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang Garuda belum mereda dalam jangka pendek.

Di sisi lain, indeks dolar AS justru menunjukkan penguatan signifikan dengan berada di kisaran 98,10. Angka tersebut mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap mata uang Negeri Paman Sam di pasar global, yang secara langsung menekan nilai tukar rupiah dan mata uang negara berkembang lainnya.

Selain sentimen penguatan dolar, lonjakan harga minyak mentah dunia juga ikut memberi tekanan terhadap pergerakan rupiah. Harga minyak Brent dilaporkan naik 0,29 persen menjadi USD104,51 per barel, sementara minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) turut menguat 0,32 persen ke level USD98,38 per barel. Kenaikan harga komoditas energi ini memicu kekhawatiran akan meningkatnya biaya impor dan inflasi, yang pada akhirnya membebani nilai tukar rupiah.

Sementara itu, pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati dalam melakukan transaksi. Investor masih menunggu pengumuman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI), yang dinilai dapat memengaruhi arah pergerakan pasar keuangan global, termasuk nilai tukar rupiah. Ketidakpastian ini membuat pergerakan rupiah rentan terhadap sentimen eksternal dalam beberapa hari ke depan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags