Sumatera Barat kembali menjadi perhatian dalam peta politik nasional setelah hasil Pilpres 2024 menunjukkan provinsi ini memilih jalan berbeda dari mayoritas daerah lain. Jika sebagian besar Indonesia dimenangkan pasangan Prabowo-Gibran, Sumbar justru memberikan suara terbanyak untuk Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar.
Data Komisi Pemilihan Umum mencatat, pasangan Anies-Muhaimin meraih sekitar 56,5 persen suara di Sumbar, sementara Prabowo-Gibran hanya memperoleh 39,4 persen. Angka ini kontras dengan dua pemilu sebelumnya, di mana Prabowo justru menang telak di provinsi tersebut pada 2014 dan 2019.
Lantas, apa yang berubah? Banyak pengamat menilai faktor utama adalah pergeseran posisi politik Prabowo. Jika pada pemilu sebelumnya ia tampil sebagai tokoh oposisi, pada 2024 ia dipersepsikan sebagai bagian dari keberlanjutan pemerintahan Jokowi, terutama setelah berpasangan dengan Gibran Rakabuming Raka.
Bagi sebagian pemilih di Sumbar yang selama ini kritis terhadap pemerintahan Jokowi, kondisi ini mendorong mereka mencari alternatif. Anies kemudian dilihat sebagai simbol perubahan, sementara Prabowo dianggap mewakili status quo. Mayoritas pemilih Sumbar akhirnya memilih narasi perubahan.
Faktor lain yang tak kalah penting adalah karakter masyarakat Minangkabau yang dikenal kritis. Tradisi berdiskusi di lapau, budaya surau, dan kebiasaan merantau telah membentuk pola pikir yang tidak mudah mengikuti arus. Dalam sejarah, banyak tokoh intelektual besar lahir dari tradisi ini. Karena itu, pilihan politik yang berbeda dari nasional bukanlah hal baru.
Meski demikian, hampir 40 persen pemilih Sumbar tetap mendukung Prabowo-Gibran, dan di beberapa daerah pasangan ini menang. Ini menunjukkan masyarakat Sumbar tidak monolitik. Pertanyaan yang lebih mendasar bukanlah mengapa mereka tidak mendukung Prabowo, melainkan mengapa mereka berani berbeda ketika mayoritas memilih arah lain. Di situlah letak keunikan politik Sumbar.
Bagi banyak anak muda Minang, politik bukan sekadar mengikuti siapa yang sedang kuat, tetapi soal kesesuaian dengan nilai, gagasan, dan harapan terhadap masa depan Indonesia.
Artikel Terkait
500 Penari Tampil Kolosal di Pantai Watu Pecak, Angkat Kisah Lahirnya Negeri Lamadjang
KSPI Pastikan Tak Ada PHK Massal di Dua Pabrik Jepang di Jatim Hingga 2030
Pemain Terbaik MLSC All-Stars 2026 Sabrina Dwi Ristiyana Siap Berlaga di SingaCup
Kekeringan di Cibarusah, Bekasi: 160 KK Kesulitan Air Bersih