Keluarga dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr. Icha berencana menempuh jalur hukum atas dugaan intimidasi yang dialami almarhumah saat bertugas menangani pasien di RS Leona, Kefamenanu, Nusa Tenggara Timur. Rencana itu diumumkan di tengah penyelidikan polisi terkait penyebab kematian dr. Icha yang meninggalkan duka mendalam.
Paman dr. Icha, Fabi Banase, mengungkapkan isi pesan terakhir yang dikirim keponakannya sebelum meninggal. Dalam pesan singkat itu, dr. Icha menggambarkan kondisi psikologisnya yang tertekan setelah insiden dugaan intimidasi. "Dia (korban) bilang punya niat meninggal dunia untuk menghindari trauma. Bapa, saya stres. Kalau saya pulang ke sana (Kefamenanu), saya takut. Biar saya mati saja supaya jangan ada korban nakes yang lain," ujar Fabi menirukan isi pesan dr. Icha.
Fabi menduga tekanan batin itu dipicu dugaan intimidasi saat menangani pasien anak korban gigitan ular hijau. Tiga anggota DPRD TTU disebut terlibat: Veronika Lake (PDI Perjuangan), Therensius Lazakar (Golkar), dan Norbertus Tubani (PKB). Menurut Fabi, dua dari tiga anggota dewan itu diduga dalam pengaruh minuman keras saat mendatangi IGD RS Leona. "Mereka dalam keadaan mabuk saat masuk ke ruang UGD," ungkapnya.
Kondisi psikologis dr. Icha terus memburuk. Hasil pemeriksaan di Klinik Utama Dewantara pada 23 Juni 2026 menunjukkan almarhum mengalami episode depresi berat tanpa gejala psikotik dan sempat melakukan percobaan bunuh diri. Keluarga juga menyebut dr. Icha sempat dirawat di RS Leona akibat tekanan psikologis. Salah satu anggota DPRD disebut berucap dengan nada tinggi, "Kau akan bertemu saya di Komisi III."
Keluarga Akan Lapor ke Polda NTT
Fabi memastikan keluarga akan melaporkan tiga anggota DPRD TTU ke Polda NTT atas dugaan intimidasi. Langkah hukum itu berjalan bersamaan dengan proses etik di Badan Kehormatan DPRD TTU. "Yang pasti kita ke Polda NTT, laporkan tiga orang anggota DPRD TTU ini ke Polda NTT," tegas Fabi. Ia mengatakan keluarga menghormati proses etik, tetapi proses pidana dinilai perlu segera berjalan.
Sebelumnya, keluarga telah berkomunikasi dengan Ketua DPRD TTU. BK DPRD memberikan waktu tujuh hari untuk membuka ruang penyelesaian. "Kalau dalam tujuh hari tidak ada titik temu, baru mereka bentuk proses laporan itu. Tapi karena secara internal mereka katanya belum selesai, kita tunggu. Yang pasti kami akan kawal," ujarnya. Fabi menegaskan keluarga bersama elemen masyarakat, organisasi kemasyarakatan, dan mahasiswa akan mengawal proses tersebut. "Bila perlu kita duduki DPR kalau prosesnya tidak berjalan sebagaimana mestinya," tutupnya.
Rekan Kerja: Dr. Icha Berkali-kali Minta Tolong
Kasus ini turut menjadi perhatian Ikatan Dokter Indonesia (IDI) NTT. Rekan kerja sekaligus dokter konsultan dr. Icha, dr. Trimaharani, mengaku menjadi dokter yang dihubungi langsung almarhumah saat menghadapi dugaan intimidasi. Menurut dr. Tri, pada malam kejadian dr. Icha berkali-kali menelepon dan mengirim pesan WhatsApp untuk meminta bantuan menjelaskan kondisi medis pasien kepada keluarga pasien maupun anggota DPRD yang berada di rumah sakit. "Karena malam itu saat kejadian dibentak dan dimarahi, saya yang menjadi tempat konsultasi dr. Icha. Dia berkali-kali menelepon saya meminta tolong agar saya menjelaskan kepada keluarga dan DPR. Sampai sekarang saya masih menyimpan WhatsApp dr. Icha malam itu," ungkapnya.
Ia mengatakan dari komunikasi tersebut terlihat jelas bahwa dr. Icha berada dalam tekanan psikologis. "Waktu telepon dan WhatsApp kepada saya, dia takut sekali," katanya. Menurut dr. Tri, seluruh tindakan medis yang dilakukan dr. Icha telah sesuai dengan ilmu kedokteran dan arahan konsultasi yang diberikannya. Ia menegaskan dr. Icha tidak melakukan kesalahan dalam penanganan pasien tersebut.
Polisi saat ini masih menyelidiki penyebab kematian dr. Icha sekaligus mendalami dugaan intimidasi. Sementara itu, anggota DPRD TTU yang namanya disebut keluarga telah memberikan klarifikasi. Mereka membantah melakukan intimidasi terhadap dr. Icha dan menyatakan siap memberikan keterangan apabila diminta oleh penyidik.
Artikel Terkait
Viral Pria Jadi Tukang Parkir Liar di Kebun Teh Rancabali, Polisi Buru Pelaku
Nikolas dari Cusa dan Warisan Konjektur yang Mengguncang Gereja
Balita Tewas Jatuh ke Lubang Proyek di Jakarta Selatan
Kuasa Hukum Tahu Identitas Pria Misterius di Kasus Kematian Pejabat Bangkalan, Enggan Buka ke Publik