Tak Gentar Ditolak, Pria 43 Tahun Ini Terus Ikhtiar Cari Jodoh Lewat Program Golek Garwo

- Minggu, 28 Juni 2026 | 19:24 WIB
Tak Gentar Ditolak, Pria 43 Tahun Ini Terus Ikhtiar Cari Jodoh Lewat Program Golek Garwo

Asa Radi Iswanto untuk mencari pendamping hidup tak pernah pudar. Ikhtiar itu masih terus dibawanya dengan mengikuti program Golek Garwo, yang merupakan salah satu rangkaian acara Nikah Fest 2026 yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama. Mengusung istilah dari bahasa Jawa yang berarti 'mencari pasangan', program ini menjadi wadah taaruf bagi masyarakat yang ingin mencari pasangan hidup dengan tujuan membangun rumah tangga.

Melalui kegiatan ini, peserta difasilitasi untuk saling berkenalan secara langsung dalam suasana yang terarah sebagai langkah awal menuju pernikahan. Selain mempertemukan calon pasangan, Golek Garwo juga melengkapi berbagai layanan yang dihadirkan dalam Nikah Fest, seperti bimbingan perkawinan, konsultasi keluarga, edukasi kesiapan menikah, hingga layanan pencatatan nikah.

Radi menjadi salah satu di antara ratusan peserta yang memadati ruang pertemuan tempat digelarnya Golek Garwo di SMESCO Jakarta pada Minggu (28/6). Pada siang itu, rautnya tampak tenang. Sesekali ia memperhatikan peserta lain yang datang dengan harapan serupa. Tidak ada kegelisahan berlebihan di wajah pria berusia 43 tahun itu. Ia datang membawa satu tujuan sederhana: menemukan perempuan yang kelak menjadi pendamping hidupnya.

Bagi Radi, mengikuti Golek Garwo bukan pengalaman pertama. Setahun terakhir ia berikhtiar mencari pasangan hidup. Sebelumnya ia pernah mengikuti kegiatan serupa di Solo, Jawa Tengah. Kini ia kembali mencoba peruntungan di Jakarta. "Saya ingin mengikuti acara Golek Garwo karena termotivasi supaya mendapatkan pasangan hidup yang sesuai kriteria saya, yang baik, islami, dan amanah tentunya," kata Radi.

Perjalanan mencari pasangan tidak selalu berjalan mulus. Dalam proses taaruf, ia beberapa kali harus menerima kenyataan bahwa perkenalan tidak berlanjut karena belum menemukan kecocokan. "Mungkin dari segi penilaian. Kita saling menilai saat taaruf, saling tanya jawab. Mungkin belum ada kecocokan satu sama lain. Tapi di sini nanti kita bismillah saja, semoga ketemu," katanya sambil tersenyum kecil.

Radi mengaku pernah mengalami penolakan sebanyak dua hingga tiga kali. Menurutnya, penolakan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses mencari pasangan. "Ya, pernah ditolak juga. Tapi saya anggap itu wajar. Namanya mencari pasangan, mungkin ada penilaian dan sebagainya," ujar Radi sambil mengingat kembali momen penolakan tersebut. Ia menduga penolakan itu dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari status sosial, pekerjaan, hingga pertimbangan lain yang dimiliki calon pasangan.

Meski demikian, kegagalan tidak membuatnya berhenti berusaha. Baginya, mencari jodoh adalah ikhtiar yang membutuhkan kesabaran. "Saya tidak merasa putus asa. Saya terus move on, terus maju karena kita sudah ikhtiar, ibadah, dan sebagainya," katanya. Optimisme itulah yang membawanya kembali mengikuti Golek Garwo. Radi menilai suasana yang dibangun dalam kegiatan tersebut membuat peserta tetap memiliki harapan untuk menemukan pasangan. "Yang membuat saya yakin adalah situasi dan kondisinya. Suasananya semarak, membuat semangat dan tidak merasa putus asa," ujar Radi.

Menurut Radi, tantangan mencari pasangan pada masa sekarang justru semakin kompleks. Persoalannya tidak hanya soal perasaan, tetapi juga menyangkut latar belakang pendidikan dan kesetaraan. Di luar Golek Garwo, Radi juga pernah mencoba mencari pasangan melalui media sosial. Namun pengalaman itu membuatnya menyadari bahwa pertemuan langsung memberikan kesan yang berbeda. "Kalau di Golek Garwo kita bertemu langsung dengan pasangan. Bisa berinteraksi, ngobrol, tatap muka. Kalau di media sosial kita tidak tahu aslinya, hanya lewat Facebook, Instagram, atau chatting," jelas Radi.

Ia pun memiliki gambaran sederhana mengenai sosok perempuan yang diharapkannya. Bukan semata soal penampilan, melainkan karakter dan keseriusan membangun rumah tangga. "Yang pertama islami, sopan santun, ramah, agama, karakter, kepribadian, pendidikan, dan serius dalam mencari pasangan, bukan untuk bercanda," katanya dengan tegas. Bagi Radi, pernikahan bukan sekadar menyatukan dua orang, melainkan membangun kehidupan bersama yang harmonis.

Harapan itu pula yang membuatnya belum menyerah meski perjalanan menemukan pasangan belum berakhir. Jika suatu hari bertemu perempuan yang sama-sama mantap melangkah ke jenjang pernikahan, ia tidak ingin menunggu terlalu lama. "Kalau sudah ada, ya secepatnya. Karena saya ingin punya keturunan," ujar Radi.

Bagi sebagian orang, aplikasi kencan mungkin menjadi pilihan untuk mencari pasangan. Namun bagi Radi, bertatap muka dalam forum taaruf seperti Golek Garwo tetap memiliki tempat tersendiri. Di sana, ia percaya seseorang dapat mengenal karakter calon pasangan secara lebih nyata. Setelah setahun mencari, mengikuti dua kali kegiatan Golek Garwo, dan beberapa kali mengalami penolakan, Radi memilih tetap datang dengan keyakinan yang sama. Baginya, jodoh bukan sesuatu yang cukup ditunggu, melainkan harus diupayakan. Selama kesempatan itu masih ada, ia akan terus melangkah, berharap suatu pertemuan sederhana kelak menjadi awal dari perjalanan hidup yang baru.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags