Kesiapan Finansial Jadi Syarat Utama Menikah bagi Generasi Muda

- Senin, 29 Juni 2026 | 07:36 WIB
Kesiapan Finansial Jadi Syarat Utama Menikah bagi Generasi Muda

Di usianya yang baru 20 tahun, Fauziah Suraya Firdausi tidak takut membicarakan pernikahan. Namun, baginya, menikah bukanlah perlombaan. Mahasiswi asal Bekasi ini justru menyoroti aspek yang jarang menjadi pembahasan utama saat orang mencari pasangan: kesiapan finansial.

Pandangan itu ia sampaikan di sela-sela sesi Golek Garwo dalam rangkaian Nikah Fest 2026 di SMESCO Exhibition Jakarta, Minggu (28/6). Menurut Fauziah, pernikahan bukan sekadar cinta, melainkan juga tanggung jawab dan kemampuan bertahan menghadapi berbagai situasi, terutama saat mengurus anak nanti.

Fauziah mengaku baru mulai membuka diri tahun ini. Sebelumnya, ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar, mencari pengalaman, dan bekerja sebagai freelancer sambil kuliah. Kesempatan mengikuti Golek Garwo datang tanpa direncanakan, setelah ia diajak sang ibu yang melihat acara itu di Instagram.

Awalnya, Fauziah mengira acara tersebut hanya pameran pernikahan. Ternyata, di dalamnya terdapat sesi ta'aruf yang mempertemukan peserta untuk saling mengenal. Ia menjadi peserta termuda di ruangan itu; mayoritas peserta lain sudah berusia 30-an. Meski sempat memperhatikan beberapa peserta laki-laki yang tampil rapi, harapannya surut begitu mengetahui usia mereka.

Hari itu ia tidak menemukan pasangan yang sesuai. Namun, pengalaman itu justru menguatkan pandangannya mengenai alasan banyak anak muda belum berani menikah. Menurut Fauziah, persoalannya bukan sulit menemukan pasangan, melainkan rasa aman menghadapi masa depan yang semakin tidak pasti.

"Sekarang kan negara juga lagi kayak di ambang gimana sih, kayak enggak pasti gitu kan. Jadi mungkin orang-orang tuh lebih fokus buat nyari pengalaman, pekerjaan, sampai mereka menemukan financial freedom. Jadi setelah mereka sudah siap, baru mereka pengin menikah," katanya serius.

Ia bahkan menilai kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi membuat sebagian anak muda menunda pernikahan, bahkan mempertimbangkan untuk tidak memiliki anak. "Sampai kadang-kadang ada orang yang saking takut buat nikah itu sampai pengin childfree gitu," jelasnya.

Meski demikian, Fauziah tidak kehilangan harapan. Baginya, menikah tetap menjadi cita-cita yang ingin diwujudkan ketika seluruh persiapan telah terpenuhi. Karena itu, ketika ditanya tentang pasangan ideal, ia tidak menyebut paras tampan atau pekerjaan bergengsi. Yang ia cari adalah seseorang yang telah mandiri secara finansial, mampu menjadi imam dalam keluarga, serta menjalani gaya hidup sehat, seperti tidak merokok.

Meski belum menemukan sosok tersebut di Golek Garwo, ia tidak kecewa. Jika ada kesempatan serupa, ia bersedia mencoba lagi. Namun untuk saat ini, prioritasnya tetap menyelesaikan kuliah dan membangun masa depannya sendiri.

Fauziah memiliki pesan bagi teman-teman seusianya yang merasa tertinggal karena belum menikah. "Take time aja sih. Jadi kita enggak usah terburu-buru melihat standar di sini. Misalnya orang sudah pada nikah, tapi kok aku belum ya? Karena kan jodoh enggak ke mana ya," tegasnya.

Ucapan itu mencerminkan cara pandang banyak anak muda hari ini: mereka tidak menolak pernikahan, tetapi ingin memasukinya ketika benar-benar siap, terutama dari sisi ekonomi. Menemukan pasangan hidup tetap penting, tetapi memastikan masa depan keluarga berdiri di atas fondasi yang kokoh jauh lebih penting daripada sekadar menikah lebih cepat.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags