Arsitektur Gotong-Royong: Menghidupkan Kembali Semangat Warga di Tengah Krisis

- Senin, 29 Juni 2026 | 08:25 WIB
Arsitektur Gotong-Royong: Menghidupkan Kembali Semangat Warga di Tengah Krisis

Di tengah krisis ekonomi yang melanda, semangat gotong-royong justru muncul dari komunitas arsitek dan desainer yang tergabung dalam Bintaro Design District (BDD). Sejak 2018, mereka membuktikan bahwa arsitektur tidak hanya melayani klien elite, tetapi juga bisa menjadi alat untuk merangkul warga kampung urban yang terpinggirkan. Pada perhelatan BDD 2026 yang berlangsung awal Juni lalu, sejumlah arsitek senior dan muda, termasuk partisipan dari Busan, Korea Selatan, memamerkan karya yang menembus batas-batas sosial dan ekonomi.

Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta, Teguh Aryanto, yang akrab disapa Gigo, menjadi salah satu motor penggerak. Ia memperkenalkan proyek rehabilitasi rumah layak huni di Kampung Menteng Tenggulun, Manggarai, Jakarta. Kawasan padat penduduk dengan sanitasi terbatas itu dikepung oleh hunian elite para pejabat dan korporasi. Gigo menyebut proyek ini sebagai "Kampung Gotong-Royong", sebuah inisiatif yang lahir dari keprihatinan melihat warga yang bekerja informal dan tinggal di rumah berukuran 3x4 meter dua lantai, tempat anggota keluarga harus bergantian tidur.

"Arsitektur sebagai instrumen merawat jarak untuk semua orang dan merangkul batas-batas fungsional," ujar Gigo saat mempresentasikan proyeknya di Sekolah Tingal, Tangerang Selatan, kompleks pendidikan seluas tiga hektar yang menjadi lokasi pameran BDD 2026. Ia mengajak publik untuk langsung menyaksikan karya 50 arsitek anggota IAI di Menteng Tenggulun pada Juli mendatang.

Tak hanya di Jakarta, semangat serupa juga tumbuh di Tangerang Selatan. Arsitek muda Tegar Abieza mengembangkan Kampung Utan, permukiman tradisional Betawi di Kelurahan Pondok Pucung dan Pondok Ranji, menjadi kampung wisata. Sejak 2022, ia menjadikan kampung yang mempertahankan pola ruang organik dan tradisi sosial itu sebagai pusat kolaborasi kreatif, pameran seni warga, dan ruang rekreasi alternatif. Tegar, yang meraih Juara I BDD dari 2022 hingga 2026, membantah anggapan bahwa masyarakat kampung tak bisa dilibatkan dalam modernitas. Ia merujuk pada tradisi Lenong Betawi, Pencak Silat, dan musik Tanjidor sebagai modal sosial yang telah ada.

"Kampung Utan layak dengan lokasi yang dicari untuk properti, tempat usaha, dan penginapan. Revitalisasinya menjadi kampung wisata membangun optimisme bersama warga," kata Tegar. Di studionya, ia menggelar pasar malam dengan tontonan lokal, kuliner khas, dan atraksi Tanjidor setiap beberapa minggu sekali untuk menarik wisatawan.

Inisiatif Gigo dan Tegar menjadi bukti bahwa arsitektur dari, oleh, dan untuk warga bukanlah slogan klise. Di tengah gurun individualisme kota raksasa seperti Jakarta, mereka menemukan sumber air gotong-royong yang menyegarkan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags