PSSI Kecam Kerusuhan Suporter Usai Persipura Gagal Promosi ke Liga 1

- Sabtu, 09 Mei 2026 | 16:30 WIB
PSSI Kecam Kerusuhan Suporter Usai Persipura Gagal Promosi ke Liga 1

Keprihatinan mendalam disampaikan Federasi Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) menyusul kericuhan hebat yang pecah di Stadion Lukas Enembe, Jayapura, tak lama setelah pertandingan antara Persipura Jayapura dan Adhyaksa FC berakhir. Sekretaris Jenderal PSSI, Yunus Nusi, mengecam keras tindakan anarkis yang terjadi dan berharap insiden memilukan ini tidak kembali mencoreng wajah kompetisi sepak bola nasional.

Kerusuhan meletus sesaat setelah peluit panjang dibunyikan dalam laga babak play-off promosi Liga 2 atau Championship 2025-2026, Jumat, 8 Mei 2026. Pertandingan yang berlangsung sengit itu berakhir dengan skor tipis 0-1 untuk keunggulan tim tamu. Hasil tersebut memastikan Adhyaksa FC mengunci tiket promosi ke kasta tertinggi, sementara langkah Persipura Jayapura, julukan Mutiara Hitam, harus terhenti dan gagal kembali ke kasta utama musim depan.

Kekecewaan mendalam akibat kegagalan promosi diduga menjadi pemicu amuk massa di area stadion. Berdasarkan rekaman yang beredar luas di media sosial, oknum suporter terlihat merangsek masuk ke lapangan, melakukan pengrusakan fasilitas termasuk bangku pemain, hingga berlanjut pada pembakaran sejumlah kendaraan di area luar stadion. Insiden ini menambah catatan kelam bagi iklim sepak bola nasional yang tengah berupaya bangkit.

“PSSI sangat menyayangkan kericuhan ini terjadi di Jayapura, dan tentu kita prihatin dengan keributan ini,” ujar Yunus dalam keterangan resmi, Sabtu (9/5/2026).

Yunus meyakini tindakan destruktif tersebut dipicu oleh oknum tertentu yang tidak mencerminkan sikap asli pecinta sepak bola di tanah Papua. “PSSI juga tidak sampai berprasangka buruk terjadinya hal seperti kejadian tadi malam. Karena kami tahu bahwa masyarakat dan suporter, masyarakat Papua, suporter Persipura sangat cinta dengan sepak bola. Tentu dengan cinta akan sepak bola, pasti kami yakin untuk menjaga ketertiban dan keamanan di Stadion Lukas Enembe,” tambahnya.

Tragedi ini menjadi alarm keras mengingat posisi Indonesia yang masih berada dalam radar pemantauan ketat Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) pascainsiden Kanjuruhan. Yunus menekankan bahwa perilaku tidak sportif semacam ini dapat memberikan citra negatif bagi transformasi sepak bola yang tengah diperjuangkan Indonesia di mata dunia. “Dan ini tentu juga akan menggores perjalanan sepak bola kita, yang kita tahu bersama saat ini kita lagi sementara dimonitor, diawasi oleh FIFA. Dan PSSI berharap hal ini tidak akan terulang lagi,” tuturnya.

Lebih lanjut, Yunus mengajak seluruh pihak untuk kembali memahami nilai-nilai dasar olahraga yang mengedepankan sportivitas. Menghadapi kekalahan dengan kepala tegak dianggap sebagai bagian mutlak dari ekosistem sepak bola profesional yang harus dipahami oleh setiap penggemar agar kejadian serupa tidak terus berulang di masa mendatang. “Dan kita butuh kesabaran, kita butuh kesadaran bahwa menang-kalah itu pasti terjadi di dalam sebuah pertandingan. Kita harus sadar bahwa pertandingan itu kalah, menang, atau seri, dan itu pasti akan terjadi, tidak akan mungkin tidak,” tandasnya.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar