Feedzai Peringatkan Lonjakan Penipuan Online dan Perdagangan Orang Jelang Piala Dunia 2026

- Kamis, 30 April 2026 | 14:15 WIB
Feedzai Peringatkan Lonjakan Penipuan Online dan Perdagangan Orang Jelang Piala Dunia 2026

Menjelang Piala Dunia 2026, ada satu hal yang bikin waswas: potensi penipuan online yang diperkirakan bakal naik drastis. Biasanya, begitu ada event besar macam Piala Dunia atau Super Bowl, para penipu langsung gercep. Mereka mulai bergerak, mencari celah.

Feedzai perusahaan yang jago mendeteksi transaksi ilegal dan penipuan online pakai machine learning bilang, antusiasme penggemar itu sasaran empuk. “Acara besar seperti Piala Dunia adalah mimpi para penipu. Tiketnya mahal, orang pasti cari diskon atau tawaran miring. Nah, di situ mereka masuk,” kata CEO Feedzai, Nuno Sebastião.

Menurut laporan yang dirilis akhir April lalu, aktivitas jaringan scammer memang sering meningkat saat event besar. Tapi yang bikin beda tahun ini? Harga tiket yang naik. Kenaikan itu, kata mereka, bisa bikin risiko penipuan makin gede. Apalagi, fans sepak bola itu datang dari berbagai kalangan ekonomi. Ada yang mampu, ada yang pas-pasan dan yang terakhir ini paling rawan.

Peringatan Feedzai ini sejalan sama proyeksi The Knoble, sebuah jaringan swadaya yang fokus pada pemberantasan kejahatan finansial. Mereka memperkirakan Piala Dunia bisa memicu sekitar 28.500 transaksi mencurigakan di seluruh dunia. Area yang paling rawan? Tiket, perjalanan, dan penipuan online.

Nah, Sebastião juga ngasih peringatan lain. Katanya, jaringan penipu global yang aktif di event-event besar itu biasanya bukan main-main. Mereka dikelola oleh sindikat kejahatan besar, bahkan kadang dilindungi negara tertentu. “Ini jaringan global yang disponsori Korea Utara, beberapa negara di Afrika, Eropa Timur, dan Amerika Latin. Wilayah-wilayah yang sistem hukum kita (AS) nggak bisa menjangkau,” ujarnya.

Dia juga nambahkan, kejahatan selama event besar nggak cuma soal penipuan online atau tiket. Ada juga kejahatan di lokasi, seperti perdagangan orang. “Setiap kali ada perkumpulan besar, pasti ada yang diperdagangkan untuk eksploitasi seksual. Mereka korban, dipaksa karena status mereka sebagai imigran legal,” kata Sebastião.

Contoh nyata? Belum lama ini, pas Super Bowl terakhir di California, polisi menangkap 23 pelaku perdagangan orang. Tujuh puluh tiga korban berhasil diselamatkan, dan 10 di antaranya masih di bawah umur. Angka yang bikin merinding.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar