Swedia Peringatkan Krisis Avtur Akibat Konflik Iran-AS dan Penutupan Selat Hormuz

- Rabu, 29 April 2026 | 12:20 WIB
Swedia Peringatkan Krisis Avtur Akibat Konflik Iran-AS dan Penutupan Selat Hormuz

STOCKHOLM Pemerintah Swedia baru saja mengeluarkan peringatan dini. Mereka khawatir akan terjadi kelangkaan avtur di kawasan Skandinavia. Pemicunya? Gangguan pasokan bahan bakar akibat perang antara Iran dan Amerika Serikat, plus penutupan Selat Hormuz yang bikin rantai distribusi kacau balau.

Menteri Energi Swedia, Ebba Busch, bilang peringatan ini bukan isapan jempol. Keputusannya berdasarkan asesmen serius dari Swedish Energy Agency. "Meskipun nanti ada kesepakatan damai antara kedua negara tersebut besok, tetap perlu waktu untuk pemulihan sebelum akhirnya pasokan minyak dan gas kembali normal," ujarnya.

Nah, pernyataan senada juga pernah dilontarkan oleh International Air Transport Association (IATA) pada 8 April 2026 lalu. Willie Walsh, General Director IATA, dengan tegas menyebut bahwa harga minyak mentah mungkin turun, tapi harga avtur? Ceritanya lain. Justru bakal merangkak naik.

Menurut IATA, meski Iran akhirnya membuka akses Selat Hormuz, pemulihan harga avtur bisa memakan waktu berbulan-bulan. Soalnya, banyak kapasitas penyulingan di Timur Tengah yang rusak parah akibat konflik. Jadi, jangan harap semuanya kembali normal dalam sekejap.

Sampai sekarang, kelangkaan avtur secara sistemik di Uni Eropa memang belum terasa. Tapi kekhawatiran tetap menggelayut. Sekitar 20 persen pasokan avtur untuk Uni Eropa dikirim lewat Selat Hormuz itu angka yang nggak bisa dianggap remeh. Di sisi lain, Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson mencoba sedikit menenangkan. Ia bilang Swedia relatif lebih kebal terhadap krisis energi dibanding negara Eropa lain. Sebab, sebagian besar listrik mereka berasal dari nuklir, pembangkit hidro, dan energi terbarukan.

Apalagi, Swedia dan negara-negara Nordic lain punya kapasitas penyulingan yang lumayan besar. Sebagian pasokan bahan bakarnya juga diambil dari Laut Utara (North Sea). Namun begitu, krisis energi ini pada akhirnya bakal tetap menggigit Swedia dan Skandinavia kalau konflik geopolitik di Timur Tengah makin parah dan berlarut-larut.

Caroline Asserup, Direktur Swedish Energy Agency, mengingatkan soal perbedaan jenis bahan bakar. "Penting diingat untuk membedakan jenis-jenis bahan bakar, karena tiap jenis bahan bakar punya pasar dan kondisi yang berbeda-beda. Bicara soal avtur, sekarang ini bukan situasi yang normal," katanya.

Dia melanjutkan, "Kami tidak lihat ada gangguan pengiriman, tetapi kami lihat fluktuasi harga, dan karena pergerakan harga inilah beberapa perusahaan, dengan alasan komersial, memutuskan untuk membatalkan jadwal penerbangan."

Akibatnya, sejumlah maskapai di Eropa sudah mulai mengambil langkah drastis. Mereka menghentikan ribuan jadwal penerbangan demi menghemat persediaan avtur. Lufthansa, misalnya, jadi salah satu yang paling depan ambil keputusan ini.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar