Angka ekspor mobil China benar-benar melesat di tahun 2025. Tercatat, lebih dari tujuh juta unit kendaraan berhasil dikirim ke luar negeri, sebuah lonjakan yang mencapai 21 persen dibanding tahun sebelumnya. Apa yang mendorong pertumbuhan pesat ini? Ternyata, kendaraan listrik dan plug-in hybrid menjadi motor utamanya. Pengiriman untuk jenis kendaraan energi baru ini bahkan melonjak dua kali lipat, menyentuh angka 2,6 juta unit.
Di sisi lain, situasi di pasar domestik justru tidak semeriah itu. Persaingan di dalam negeri semakin ketat, sementara permintaan konsumen terlihat melemah. Akibatnya, para produsen seperti berlomba mencari udara segar di pasar global. Menurut Asosiasi Produsen Otomotif China, tren ekspor ini diprediksi akan terus berlanjut tahun ini. Mereka berupaya keras mengatasi perang harga yang makin sengit di rumah sendiri.
Data penjualan dalam negeri pun bercerita. Meski sepanjang 2025 penjualan mobil penumpang naik 6 persen menjadi 24 juta unit, ada penurunan tajam di akhir tahun. Pada Desember lalu, angka penjualan anjlok 18 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Situasi ini semakin mendorong ambisi mereka untuk go internasional.
Analis dari Deutsche Bank punya pandangan optimis. Mereka memperkirakan ekspor kendaraan penumpang China akan naik lagi 13 persen pada 2026. Alasannya sederhana: pasar luar negeri menawarkan profitabilitas yang lebih baik dan laju pertumbuhan yang lebih cepat. Saat ini, kontribusi pendapatan dari luar negeri bagi kebanyakan produsen mobil China masih di bawah 10 persen. Tapi, pemain besar seperti BYD sudah mulai menikmati porsi yang lebih signifikan.
“Kami percaya kontribusi (luar negeri) kemungkinan akan meningkat selama dua tahun ke depan seiring dengan ekspansi ekspor,”
kata Stephen Chan, Associate Director S&P Global Ratings.
Namun begitu, perjalanan ekspor ini tidak sepenuhnya mulus. Tujuan utama pengiriman masih berkisar di Rusia, Amerika Latin, Timur Tengah, Eropa, dan Asia Tenggara yang secara kolektif menyerap 70 persen volume ekspor 2025. Masuk ke pasar negara maju ternyata lebih sulit. Di Amerika Serikat dan Kanada, misalnya, tarif tinggi untuk mobil listrik menjadi penghalang serius.
Prestasi BYD patut dicatat. Mereka berhasil menggeser Tesla sebagai produsen mobil listrik terbesar dunia di 2025. Tapi, prestasi gemilang itu tak lepas dari tantangan. Di bulan Desember, BYD hanya melaporkan pengiriman 420.398 unit untuk semua jenis kendaraan. Angka itu turun 18 persen, mencerminkan betapa fluktuatifnya pasar otomotif global saat ini.
Artikel Terkait
Berkas Perkara Ijazah Palsu Lima Tersangka Dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi DKI
Iran Buka Akses Penuh Selat Hormuz Selama Gencatan Senjata Lebanon Berlangsung
Kedatangan Patrick Kluivert ke Jakarta Banjir Sambutan, Latihan Barcelona Legends Terganggu
Kemenkes Luncurkan Sistem Pelabelan Nutri-Level untuk Kendalikan Gula, Garam, dan Lemak