“Kami percaya kontribusi (luar negeri) kemungkinan akan meningkat selama dua tahun ke depan seiring dengan ekspansi ekspor,”
kata Stephen Chan, Associate Director S&P Global Ratings.
Namun begitu, perjalanan ekspor ini tidak sepenuhnya mulus. Tujuan utama pengiriman masih berkisar di Rusia, Amerika Latin, Timur Tengah, Eropa, dan Asia Tenggara yang secara kolektif menyerap 70 persen volume ekspor 2025. Masuk ke pasar negara maju ternyata lebih sulit. Di Amerika Serikat dan Kanada, misalnya, tarif tinggi untuk mobil listrik menjadi penghalang serius.
Prestasi BYD patut dicatat. Mereka berhasil menggeser Tesla sebagai produsen mobil listrik terbesar dunia di 2025. Tapi, prestasi gemilang itu tak lepas dari tantangan. Di bulan Desember, BYD hanya melaporkan pengiriman 420.398 unit untuk semua jenis kendaraan. Angka itu turun 18 persen, mencerminkan betapa fluktuatifnya pasar otomotif global saat ini.
Artikel Terkait
Yayasan Gates Siapkan Rp150 Triliun, Tapi PHK 500 Karyawan Mengintai
Cipratan Air Banjir Picu Amuk, Warga Koja Berakhir dengan Luka di Wajah
Ekonomi Jerman Akhirnya Tumbuh Tipis, Tapi Beban Ekspor Masih Membelit
Ekspor Mobil Ramah Lingkungan Korsel Tembus Rp1.200 Triliun di Tengah Pergeseran Pasar