Gus Rosikh: Muktamar NU Jangan Dibajak Kepentingan Politik dan Ekonomi

- Selasa, 28 April 2026 | 16:40 WIB
Gus Rosikh: Muktamar NU Jangan Dibajak Kepentingan Politik dan Ekonomi

JAKARTA Suasana menjelang Muktamar NU memang mulai terasa. Tapi di balik riuhnya persiapan, ada suara yang mengingatkan agar hajatan besar ini tidak dibajak. Pengasuh Pondok Pesantren Ma’hadul Ilmi As-Syar’iyati (MIS) Sarang, Kiai Achmad Rosikh Roghibi akrab disapa Gus Rosikh menyoroti hal itu dengan tegas. Menurutnya, Muktamar Nahdlatul Ulama harus dijaga dari kepentingan politik praktis. Juga dari orientasi ekonomi yang bisa mencederai nilai-nilai luhur organisasi. Muktamar, kata Gus Rosikh, adalah forum permusyawaratan tertinggi NU. Semestinya, forum ini jadi ruang sakral. Diisi semangat keikhlasan dan tanggung jawab keumatan. Bukan ajang rebutan kekuasaan. “NU ini berdiri di atas fondasi perjuangan para ulama. Kalau Muktamar sudah disusupi kepentingan politik dan kepentingan materi, maka arah perjuangan NU akan menyimpang dari khittahnya,” ujarnya, Selasa (28/4/2026). Di sisi lain, dia juga menekankan pentingnya mengembalikan marwah PBNU. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, menurut Gus Rosikh, harus kembali jadi representasi dunia pesantren. Bukan sekadar papan nama. PBNU, lanjutnya, harus berpijak pada nilai-nilai kepesantrenan. Nilai yang menjunjung tinggi akhlak, keilmuan, dan kemandirian ulama. “PBNU harus kembali ke pesantren, kembali ke ulama yang benar-benar hidup dalam tradisi keilmuan dan pengabdian. Jangan sampai NU hanya menjadi alat kepentingan kekuasaan,” tegasnya. Namun begitu, dia juga berharap kepemimpinan PBNU ke depan kembali ke tangan dzuriyah muasis keturunan para pendiri NU. Alasannya, mereka punya kedekatan historis, kultural, dan spiritual dengan nilai-nilai dasar organisasi. Menurut Gus Rosikh, dzuriyah muassis tidak cuma bawa legitimasi genealogis. Lebih dari itu, mereka punya tanggung jawab moral menjaga warisan perjuangan para ulama pendiri. Agar tetap di jalur yang benar. “Sudah saatnya PBNU kembali dipimpin oleh dzuriyah muassis yang memahami betul ruh perjuangan NU. Ini bukan soal eksklusivitas, tapi soal menjaga kesinambungan nilai dan amanah para pendiri,” tegasnya. Ada kekhawatiran lain yang disampaikan Gus Rosikh. Dominasi kepentingan politik di tubuh NU, menurutnya, berisiko memicu polarisasi di kalangan warga nahdliyin. Belum lagi, kepercayaan publik terhadap independensi organisasi bisa luntur. Makanya, dia mengajak semua elemen NU untuk bersama-sama menjaga marwah Muktamar. Harus bersih, jujur, dan berorientasi pada kemaslahatan umat. Proses kepemimpinan di PBNU ke depan, kata dia, harus benar-benar mencerminkan integritas. Juga kapasitas keilmuan dan komitmen terhadap nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah. “Dengan demikian, NU diharapkan tetap menjadi kekuatan moral dan sosial yang mampu menjaga persatuan bangsa serta menghadirkan Islam yang rahmatan lil alamin di tengah dinamika zaman,” pungkasnya.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar