Ada kabar baru dari Timur Tengah. Iran, menurut sejumlah sumber, disebut-sebut ingin menunda perundingan soal program nuklirnya. Isu ini selama ini jadi ganjalan utama dalam pembicaraan damai dengan Amerika Serikat.
Dilansir dari laporan pada Senin (27/4/2026), sumber-sumber itu juga bilang bahwa Teheran punya tawaran lain. Mereka siap membuka Selat Hormuz tapi dengan syarat. AS harus lebih dulu mencabut blokade laut di pelabuhan-pelabuhan Iran.
Usulan ini, menurut para sumber, disampaikan melalui beberapa mediator. Salah satunya adalah Pakistan.
Begini isi usulannya: gencatan senjata bakal diperpanjang entah untuk waktu yang lama atau bahkan dibuat permanen. Sementara itu, pembicaraan soal nuklir baru akan dimulai setelah Selat Hormuz benar-benar terbuka dan blokade laut AS dicabut. Jadi semacam paket kebijakan yang saling terkait.
Seorang pejabat AS dan sumber lain yang tahu soal diskusi ini mengatakan, Gedung Putih sudah mendengar tawaran Iran. Tapi sampai sekarang, belum ada indikasi apakah mereka bakal menerimanya atau tidak. Masih menggantung.
Ngomong-ngomong, Presiden AS Donald Trump dijadwalkan mengadakan pertemuan pada Senin itu juga. Para pejabat senior keamanan nasional akan hadir. Topik utamanya? Kebuntuan negosiasi dengan Iran dan apa langkah selanjutnya yang mungkin diambil.
Trump sendiri, dalam pernyataan terbarunya, bilang dia ingin mempertahankan blokade laut terhadap kapal dan pelabuhan Iran. Alasannya, untuk terus menekan Teheran.
Di sisi lain, upaya diplomatik malah makin intens akhir pekan kemarin. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, misalnya, mengadakan pembicaraan di Islamabad, Pakistan, dan juga di Muscat, Oman. Fokusnya? Ya, soal Selat Hormuz.
Dan tidak berhenti di situ. Senin pagi, Araghchi sudah tiba di Saint Petersburg, Rusia. Dia dijadwalkan bertemu langsung dengan Presiden Vladimir Putin dan pejabat tinggi lainnya. Padat sekali jadwalnya.
Sebelumnya, Iran dan AS sempat bertemu di Islamabad pada 11-12 April. Tapi hasilnya nihil gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik. Negosiasi itu sendiri terjadi setelah Pakistan menengahi gencatan senjata selama dua minggu pada 8 April. Gencatan itu kemudian diperpanjang secara sepihak oleh Trump.
Meski upaya untuk putaran pembicaraan berikutnya masih berlangsung, beberapa poin tetap jadi batu sandungan. Penutupan Selat Hormuz, blokade AS terhadap pelabuhan Iran, dan hak Iran untuk melakukan pengayaan uranium semua masih belum ketemu titik temunya.
Artikel Terkait
Kementerian Ekraf Dorong Musisi Tak Hanya Berkarya, Tapi Juga Ciptakan Dampak Ekonomi
LEGO Buka Gerai Terbesar se-Asia Tenggara di Jakarta, Jadi Sinyal Kepercayaan Investor pada Ekonomi Indonesia
Kemendiktisaintek Akan Kaji Ulang Program Studi Perguruan Tingi untuk Tekan Angka Pengangguran Lulusan
Muhammad Qodari Dikabarkan Dirotasi ke Kepala Bakom, Dudung Abdurachman Calon Pengganti KSP