Pernah nggak sih, kamu merasa ada yang salah dengan perlakuan seseorang, tapi pikiran malah sibuk cari-cari alasan? Psikolog Tara de Thouars bilang, itu yang namanya merasionalkan pelecehan. Dan itu bahaya banget.
Menurut dia, langkah pertama yang harus dilakukan korban adalah mendengarkan naluri tubuh sendiri. "Pasti di tubuh itu terasa tidak nyaman," tegas Tara dalam wawancara dengan Terusterang.id, yang tayang di program Poker kanal YouTube Terus Terang Media, Kamis (23/04/2026).
Nah, di sinilah proses rasionalisasi itu mulai bermain. Pikiran kita tiba-tiba jadi pabrik pertanyaan: "Ini maksudnya apa, ya? Dia bercanda, nggak sih? Atau jangan-jangan aku yang lebay, terlalu sensitif?"
"Jangan, jangan begitu. Jangan malah merasionalkan," pesan Tara.
Dia paham banget, situasi pelecehan itu menakutkan. Wajar kalau otak kita mencoba mencari pembenaran, seolah-olah apa yang terjadi itu nggak seburuk yang dirasakan. Tapi, Tara menekankan satu hal: dengarkan tubuhmu. "Kalau tubuhnya terasa tidak nyaman, maka dia harus bisa bilang 'no'," ujarnya.
Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa tubuh adalah alat deteksi yang paling jujur. "Secara rasional kita masih bisa memanipulasi, 'ah, nggak, cuma bercanda'. Tapi, kalau saya tidak nyaman, berarti benar-benar tidak nyaman." Jadi, begitu ada rasa nggak enak, sadari itu. Itu sinyal buat minta tolong, bilang "nggak", atau setidaknya kasih tahu kalau kamu terganggu.
Di sisi lain, Tara juga menyoroti data yang cukup memprihatinkan. Dari sekian banyak kasus, hanya sekitar 15 persen perempuan korban pelecehan yang berani mengadu. Lebih parah lagi, untuk kasus perkosaan, angkanya cuma 5 persen yang melapor. Kenapa bisa begitu?
Menurut dia, banyak korban yang justru merasa dirugikan setelah melapor. Prosesnya panjang, bikin malu, dianggap aib, dan nggak jarang malah kena judge negatif dari lingkungan. "Ya sudah deh, mendingan ditutup buku," kata Tara menirukan kepasrahan yang sering terjadi. Padahal, efek traumatisnya itu panjang banget, lho.
Ngomongin soal respons korban, Tara menyebutkan fakta menarik. Sekitar 70 persen perempuan yang mengalami pelecehan berada dalam kondisi beku atau freezing. Mereka diam, kaku, nggak bergerak. Dan yang paling parah, sikap diam ini sering disalahartikan sebagai tanda setuju atau menerima.
"Padahal, tubuh beku itu karena rasa takut yang menyelimuti," tegas Tara.
Apalagi, biasanya pelecehan terjadi karena ada relasi kuasa. Pelaku punya posisi lebih tinggi, lebih kuat, atau lebih berkuasa. Korban pun merasa nggak berdaya. "Kalau orang panic attack, kayak tikus diincar kucing. Mau lari nggak mungkin, kucingnya lebih besar. Mau lawan juga nggak mungkin," ujarnya memberi analogi.
Kondisi seperti inilah yang bikin banyak korban memilih jalan teraman: diam. Secara psikis, mereka berpikir dengan diam, semuanya akan cepat selesai dan berlalu. Sementara, kalau melawan, pelaku bisa balik menyerang. Kalau kabur, mereka takut dikejar. Jadi, freezing itu respons naluriah yang wajar.
"Tapi, jangan salah tangkap loh. Bukan berarti kalau freeze itu berarti aku menyetujui atau menginginkan. Tidak. Ini yang kebanyakan orang belum paham. Padahal, itu respons-respons takut sebetulnya," pungkas Tara.
Artikel Terkait
Kiandra Ramadhipa Cetak Sejarah, Juarai Red Bull MotoGP Rookies Cup di Jerez dari Posisi ke-17
Lille Kalahkan Paris FC 1-0 Lewat Penalti, Kokoh di Papan Atas Ligue 1
Israel Bombardir Lebanon Selatan Meski Gencatan Senjata dengan Hizbullah Masih Berlaku
Marc Marquez Gagal Finis di MotoGP Spanyol 2026 Usai Jatuh di Tikungan 11