IDXChannel Pekan ini, panggung pasar global bakal diramaikan oleh satu agenda besar: keputusan suku bunga dari bank-bank sentral utama dunia. Bukan cuma satu atau dua, tapi gelombangnya datang dari berbagai penjuru.
Menurut laporan Investing yang dirilis Minggu (26/4/2026), sebagian besar otoritas moneter di negara-negara G7 diperkirakan bakal menahan suku bunga acuan mereka. Alasannya? Ketidakpastian yang makin menumpuk terutama karena inflasi yang dipicu oleh konflik geopolitik masih menjadi momok.
Dari Amerika Serikat sampai Jepang, para pembuat kebijakan tampaknya lebih memilih jalan aman: wait and see. Stabilitas jadi prioritas utama.
Nah, salah satu pemicu utama kehati-hatian ini adalah situasi di Selat Hormuz. Jalur strategis ini memang vital mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Volatilitas di sana terus berlanjut, dan itu bikin siapa pun berpikir dua kali sebelum mengambil risiko.
Di Amerika Serikat, Federal Reserve diperkirakan bakal mempertahankan suku bunga sambil mencermati pemulihan PDB kuartal I-2026. Mereka juga mengamati bagaimana konflik Timur Tengah mulai berdampak pada belanja masyarakat. Belum jelas, tapi mereka ingin pastikan dulu.
Sikap serupa kemungkinan besar juga diambil oleh European Central Bank dan Bank of England. Meski begitu, keduanya masih menyisakan ruang untuk menaikkan suku bunga kalau tekanan inflasi benar-benar tak terkendali.
Masalahnya, kenaikan harga energi akibat gangguan pasokan bisa menghambat upaya bank sentral dalam menjaga ekspektasi inflasi jangka panjang. Di kawasan euro, inflasi bahkan mulai mendekati level 3 persen lagi. Biaya energi yang meningkat jadi biang keroknya.
Pelaku pasar pun bersiap. Nada kebijakan yang bakal keluar diperkirakan cenderung hawkish. Bank sentral ingin menegaskan: menahan suku bunga bukan berarti melonggarkan moneter. Ini langkah strategis, bukan sinyal lemah.
Di sisi lain, dinamika ekonomi di luar negara maju menunjukkan perbedaan yang makin tajam. Aktivitas manufaktur di Asia? Masih rapuh. Sementara tekanan inflasi di Amerika Latin terutama Brasil dan Chile cenderung lebih tinggi dibanding G7.
Kondisi ini bikin bank sentral di negara-negara tersebut berada di posisi sulit. Mereka harus menjaga keseimbangan antara risiko perlambatan ekonomi dan tekanan inflasi yang dipicu energi. Tantangan lainnya? Menghindari krisis likuiditas di tengah kebijakan moneter yang ketat.
Pada akhirnya, ekonomi global saat ini sedang berada dalam fase penuh ketidakpastian. Semua orang menunggu perkembangan konflik di jalur perdagangan energi, juga arah pertumbuhan domestik di berbagai negara. Belum ada yang benar-benar jelas.
(DESI ANGRIANI)
Artikel Terkait
Kiandra Ramadhipa Cetak Sejarah, Juarai Red Bull MotoGP Rookies Cup di Jerez dari Posisi ke-17
Lille Kalahkan Paris FC 1-0 Lewat Penalti, Kokoh di Papan Atas Ligue 1
Israel Bombardir Lebanon Selatan Meski Gencatan Senjata dengan Hizbullah Masih Berlaku
Marc Marquez Gagal Finis di MotoGP Spanyol 2026 Usai Jatuh di Tikungan 11