Presiden AS Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran pada Selasa lalu. Tapi jangan salah di balik pengumuman itu, ketegangan justru memanas. Aktivitas angkatan laut di sekitar Selat Hormuz jadi pusat perhatian. Menurut laporan yang beredar Jumat (24/4/2026), militer AS mengklaim telah menahan sebuah kapal tanker minyak yang punya afiliasi dengan Iran. Departemen Pertahanan bahkan merilis rekaman katanya, itu menunjukkan pasukan Amerika tengah berada di dek kapal di Samudera Hindia. Di sisi lain, Iran juga tidak tinggal diam. Mereka mengeluarkan video yang memperlihatkan tentaranya menaiki kapal kargo di dekat selat tersebut. Jadi, semacam saling unjuk kekuatan gitu. Sebelumnya, pada hari Rabu, Teheran sudah menyerang tiga kapal di selat yang sama. Dua di antaranya berhasil mereka sita. Nah, yang jadi sumber utama ketegangan sebenarnya adalah blokade laut yang dilakukan AS terhadap pelabuhan dan garis pantai Iran. Komando Pusat AS, pada hari Kamis, mengaku sudah mengalihkan 33 kapal sejak blokade dimulai. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut blokade itu sebagai “tindakan perang.” Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, juga angkat bicara. “Gencatan senjata total hanya masuk akal jika tidak dilanggar oleh blokade maritim,” katanya. Trump, dengan gayanya yang khas, pada hari Kamis mengeluarkan perintah keras. Ia mengatakan telah memerintahkan angkatan laut AS untuk “menembak dan membunuh kapal apa pun” yang berani menempatkan ranjau di perairan Selat Hormuz. “Selain itu, kapal penyapu ranjau kami sedang membersihkan Selat saat ini. Dengan ini saya memerintahkan aktivitas itu untuk dilanjutkan, tetapi dengan tiga kali lipat!” tulis presiden di Truth, media sosial miliknya. Tak berhenti di situ. Dalam unggahan lain, Trump menyebut AS punya “kendali penuh” atas selat tersebut. Katanya, “tidak ada kapal” yang bisa “masuk atau keluar” tanpa persetujuan Amerika. “Selat itu ‘tertutup rapat,’ sampai Iran mampu membuat KESEPAKATAN!!!” tulisnya lagi. Belakangan, Trump kembali mengunggah sesuatu. Ia bilang, kesepakatan dengan Iran “hanya akan dibuat ketika itu tepat dan baik untuk Amerika Serikat, Sekutu kita, dan, pada kenyataannya, seluruh dunia.” Ya, semoga saja semuanya tidak berujung pada sesuatu yang lebih buruk. Tapi untuk sekarang, situasi di Selat Hormuz masih jauh dari kata tenang. (kunthi fahmar sandy)
Artikel Terkait
Akademisi Feri Amsari Dilaporkan ke Polisi Akibat Kritik Swasembada Pangan Era Prabowo
Laba Hyundai Anjlok 30,8 Persen Akibat Tarif Impor AS
Kemnaker Blacklist Perusahaan Nakal di Program Magang Nasional Batch I
Wamenaker: Sertifikasi Kini Jadi Nilai Tambah Pekerja di Tengah Perubahan Dunia Industri