IDXChannel – Hyundai, raksasa otomotif asal Korea Selatan, baru saja merilis laporan keuangan kuartal pertama 2026. Hasilnya? Kurang menggembirakan. Laba mereka turun drastis angka dua digit. Jumat lalu, tepatnya 24 April 2026, Xinhua melaporkan bahwa pabrikan mobil ini sedang terhimpit kebijakan tarif yang digulirkan Presiden AS, Donald Trump. Dampaknya langsung terasa. Laba operasional Hyundai ambles 30,8 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Dalam hitungan won, angkanya mencapai 2,51 triliun atau setara Rp29 triliun. Cukup besar, ya? Tapi pendapatan mereka justru naik tipis, 3,4 persen, menjadi 45,94 triliun won. Namun begitu, laba bersihnya malah anjlok 23,6 persen, hanya tersisa 2,58 triliun won. Aneh memang, tapi itulah kenyataannya. Menurut pernyataan resmi Hyundai, penjualan model hybrid sebenarnya cukup kuat. Tapi tetap saja, laba mereka jebol karena tarif AS. "Meskipun penjualan model hybrid kuat, laba anjlok dua digit akibat dampak tarif AS," kata Hyundai dalam pernyataannya. Di sisi lain, total penjualan global Hyundai pada kuartal pertama mencapai 976.219 unit. Angka ini turun 2,5 persen dari tahun lalu. Penyebabnya? Ketidakpastian geopolitik yang bikin permintaan global melemah. Penjualan domestik di Korea Selatan juga ikut merosot turun 4,4 persen menjadi 159.066 unit. Sementara itu, penjualan di luar negeri, di luar Korsel, turun 2,1 persen menjadi 817.153 unit. Namun ada sedikit kabar baik. Penjualan global untuk model listrik termasuk hybrid melonjak 14,2 persen, mencapai 242.612 unit. Sekitar seperempat dari total penjualan Hyundai di kuartal itu berasal dari kendaraan listrik. Tepatnya 24,9 persen. (Wahyu Dwi Anggoro)
Artikel Terkait
Pemerintah Terapkan Layanan Makkah Route di Empat Bandara untuk Efisiensi Keberangkatan Haji 1447 H
Stok Beras Pemerintah Tembus 5 Juta Ton, Mentan Klaim Indonesia Tak Perlu Impor di 2025
Gempa Magnitudo 4,6 Guncang Barat Laut Ternate, BMKG Imbau Warga Waspada Gempa Susulan
Pemegang Saham Warner Bros Discovery Setujui Akuisisi oleh Paramount Skydance Senilai Rp1.900 Triliun