Menteri Keuangan: Ekonomi Indonesia Akhirnya Keluar dari Kutukan Pertumbuhan 5 Persen

- Rabu, 22 April 2026 | 11:20 WIB
Menteri Keuangan: Ekonomi Indonesia Akhirnya Keluar dari Kutukan Pertumbuhan 5 Persen

JAKARTA Ada optimisme yang terasa di udara. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meyakini Indonesia akhirnya siap keluar dari fase stagnasi. Selama sepuluh tahun, pertumbuhan ekonomi kita seperti terperangkap di kisaran 5 persen. Tapi kini, angin perubahan mulai berhembus.

Capain pada kuartal terakhir 2025 menjadi pemicu optimisme itu. Ekonomi RI tercatat melesat hingga 5,39 persen. Meski akumulasi tahunannya 5,11 persen, lonjakan di penghujung tahun itu yang disoroti Purbaya. Dia melihatnya sebagai sinyal kuat bahwa transisi sedang terjadi.

"Angka terakhir pertumbuhan ekonomi kita kan 5,39 persen," ujar Purbaya.

Dia menambahkan, "Hampir pasti kita sudah "break" dari kutukan pertumbuhan 5 persen."

Pernyataan itu disampaikannya dalam Simposium PT SMI 2026 di Jakarta, Rabu lalu.

Pencapaian ini, menurutnya, bukanlah hal sepele. Terutama jika melihat kondisi global yang justru sedang tidak bersahabat. Sejak menjabat di September 2025, tantangan yang dihadapi Purbaya luar biasa berat. Geopolitik memanas, rantai pasok global terfragmentasi, dan suku bunga di banyak negara masih tinggi. Banyak negara lain justru mengalami perlambatan.

Di tengah semua tekanan eksternal itu, kemampuan Indonesia untuk tidak hanya bertahan tapi malah menguatkan pertumbuhan, menjadi bukti. Purbaya menilai, ini menunjukkan kebijakan fiskal dalam negeri berjalan efektif.

Di sisi lain, sang menteri secara terbuka menyatakan ketidaksukaannya pada sebuah anggapan lama. Yaitu bahwa ekonomi Indonesia akan otomatis tumbuh 5 persen tanpa usaha yang berarti. Pemerintah, tegasnya, berkomitmen penuh untuk menciptakan akselerasi yang lebih masif. Bukan sekadar mengandalkan momentum.

"Jadi ke depan harusnya kita bisa tumbuh lebih cepat dari 5 persen. Saya enggak suka kisaran 5 persen itu," katanya dengan nada tegas.

Dia lalu sedikit bercerita, "Kata orang-orang dulu, ada ekonom mungkin temannya Pak Darmin bilang, Indonesia itu kalau pemimpinnya pinter bisa 6 persen."

Pesan yang ingin disampaikan jelas. Jika pertumbuhan cuma mentok di 5 persen, seolah-olah pemerintah tidak membuat terobosan strategis apapun. Itu kesan yang ingin dihindari.

"Kalau enggak ngapa-ngapain, tumbuh 5 persen saja. Jadi kalau 5 persen, keliatannya kita gak ngapa-ngapain," ujarnya.

Targetnya jelas: menciptakan pertumbuhan yang lebih cepat. Lebih ambisius. Narasi tentang "kutukan" lima persen itu, mudah-mudahan, segera menjadi cerita lama.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar