Menteri Energi AS Prediksi Harga Bensin Sudah Capai Puncak, Penurunan Diperkirakan Segera

- Senin, 20 April 2026 | 05:30 WIB
Menteri Energi AS Prediksi Harga Bensin Sudah Capai Puncak, Penurunan Diperkirakan Segera

Harga bensin di Amerika Serikat akhir-akhir ini bikin geleng-geleng. Tapi, ada secercah harapan dari Menteri Energi Chris Wright. Dia yakin harga sudah mencapai titik puncaknya. "Akan mulai turun," begitu katanya.

Wright bilang, penurunan itu bakal terjadi meski mungkin nggak cepat-cepat amat. Menurut dia, harga bisa saja menyentuh level di bawah 3 dolar AS per galon akhir tahun ini. Tapi, jangan kaget kalau ternyata harus nunggu sampai tahun depan. Intinya, trennya sudah nggak naik lagi.

"Tentu saja dengan penyelesaian konflik ini, Anda akan melihat harga turun," sambungnya, merujuk pada ketegangan di Timur Tengah.

Konflik itulah yang selama ini jadi biang kerok. Perang AS dan Israel melawan Iran, ditambah serangan-serangan Iran ke negara tetangga, bikin pasar energi kalang kabut. Harga pun melambung. Situasi ini jadi batu sandungan politik buat Presiden Donald Trump, yang sedang mempersiapkan pemilihan paruh waktu November nanti. Partai Republik berusaha mati-matian mempertahankan mayoritas tipis mereka di Senat dan DPR.

Nah, soal kapan persisnya harga turun, kabinet Trump sendiri sepertinya nggak satu suara. Menteri Keuangan Scott Bessent punya prediksi lebih optimis, memperkirakan harga akan turun ke kisaran 3 dolar musim panas ini. Sementara Wright, seperti yang kita dengar, lebih hati-hati dengan jangka waktunya.

Trump sendiri punya pandangan. Dia mengira harga bensin mungkin akan bertahan di level tinggi setidaknya sampai November.

Tapi satu hal yang disepakati: perang harus berakhir dulu. Kalau konflik dengan Iran sudah kelar, harga bensin baru benar-benar bisa bernapas lega. Wright tetap percaya diri. "Di bawah USD3 per galon sangat luar biasa jika disesuaikan dengan inflasi. Kita pasti akan kembali ke sana," katanya penuh keyakinan.

Data terbaru dari AAA menunjukkan, harga rata-rata per galon bensin reguler pada Minggu kemarin mencapai USD4,05. Angka itu jauh lebih tinggi ketimbang setahun lalu yang cuma USD3,16. Selisihnya nggak main-main.

Di tengah situasi ini, ada secercah gencatan senjata 10 hari yang disepakati AS dan Iran pada Kamis lalu. Tapi, ceritanya nggak berjalan mulus. Trump malah menuduh Iran melanggar kesepakatan itu dengan menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz akhir pekan kemarin.

Unggahan media sosial Trump pada Minggu menyebutkan, pejabat AS akan tiba di Pakistan hari Senin untuk negosiasi lanjutan. Tapi ancamannya tetap keras.

"Kami menawarkan kesepakatan yang sangat adil dan masuk akal, dan saya harap mereka menerimanya karena, jika tidak, Amerika Serikat akan menghancurkan setiap pembangkit listrik, dan setiap jembatan di Iran,"

tulisnya. Ancaman yang sebenarnya sudah dia lontarkan sebelum gencatan senjata itu berlaku.

Jadi, semua mata sekarang tertuju ke Timur Tengah. Perkembangan di sana nantinya yang akan menentukan, apakah harga di pom bensin AS benar-benar akan turun, atau cuma jadi angan-angan.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar