Infrastruktur Utama Pulau Sumeta Pulih, Fokus Beralih ke Aceh

- Minggu, 19 April 2026 | 15:30 WIB
Infrastruktur Utama Pulau Sumeta Pulih, Fokus Beralih ke Aceh

Pulau Sumeta perlahan mulai bangkit. Setelah diterpa bencana, kabar baik datang dari Kementerian Pekerjaan Umum. Mayoritas infrastruktur konektivitas di pulau itu dilaporkan sudah beroperasi kembali, mendukung mobilitas warga dan lalu lintas barang yang sempat terhambat.

Angkanya cukup menggembirakan. Untuk jalan nasional, 107 ruas jalan dan 43 jembatan yang rusak kini berfungsi penuh. Sementara di jaringan jalan daerah, pemulihan mencapai 94 persen. Dari total 2.421 ruas yang terdampak, 2.277 di antaranya sudah bisa dilalui. Untuk jembatan, 792 unit dari 1.181 telah beroperasi normal.

Menteri PU Dody Hanggodo sendiri memastikan bahwa kondisi jalan dan jembatan nasional di wilayah terdampak secara umum tidak mengalami kendala berarti.

“Kalau jalan dan jembatan nasional tidak ada masalah. Memang ada longsor, tapi dalam hitungan kurang dari 24 jam sudah bisa kita bereskan,”

ujar Menteri Dody dalam keterangan resminya, Minggu (19/4/2026).

Namun begitu, bukan berarti semua masalah selesai. Pemerintah masih menaruh perhatian khusus pada sejumlah wilayah yang kondisinya parah. Aceh, misalnya. Provinsi ini masih berjuang melawan curah hujan tinggi dan timbunan lumpur tebal di daerah hilir.

“Progres di Aceh, masalah utamanya sebenarnya lumpur dan hari ini pun masih hujan. Dengan kondisi seperti ini, pekerjaan harus dipercepat,”

tegasnya.

Melihat situasi itu, Kementerian PU tak tinggal diam. Mereka mulai mempercepat pekerjaan pengendalian sedimen, termasuk membangun sabo dam lebih awal dari jadwal. Tujuannya jelas: menahan material kayu dan sedimen yang mengancam dari hulu.

“Saya lihat di jalan nasional ke arah Gayo Luwes masih banyak kayu. Saya takut ini akan turun lagi ke Tamiang. Jadi Kementerian PU mulai mengerjakan pekerjaan sabo dam-nya walaupun belum seharusnya dimulai,”

kata Menteri Dody menjelaskan langkah antisipatifnya.

Langkah lain juga diambil. Koordinasi dengan pemda dan BMKG diperkuat, terutama untuk modifikasi cuaca. Program padat karya digeber untuk membersihkan permukiman, khususnya di daerah seperti Pidie Jaya dan Aceh Tamiang yang masih berantakan.

Di sektor lain, pemulihan juga menunjukkan tren positif. Layanan air minum, misalnya. Dari 176 sistem penyediaan air minum (SPAM) yang rusak, 165 unit atau 94 persennya sudah berfungsi lagi. Untuk air baku, pembangunan sumur bor dalam sudah mencapai 70 unit, sementara sumur bor dangkal hampir tuntas dengan progres 86 persen.

Yang tak kalah penting, pemantauan lapangan terus digencarkan. Tim diterjunkan hingga ke pelosok untuk memastikan tidak ada kebutuhan infrastruktur darurat, seperti jembatan darurat, yang terlewat. Semua demi menjaga distribusi logistik tetap lancar.

“Saya sudah titip pesan ke PPK untuk sering-sering melakukan pengecekan ke pelosok. Sehingga, kalau ada tempat yang butuh jembatan, bisa segera kita tangani dengan bekerja sama dengan TNI AD agar logistik tidak terganggu,”

tutup Menteri Dody menegaskan komitmennya.

Perlahan, tapi pasti. Itulah gambaran pemulihan di Sumatera saat ini. Tantangan masih ada, terutama di Aceh, tetapi upaya perbaikan terus dipacu tanpa henti.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar