LPEI Salurkan Rp13,7 Triliun Kredit ke Industri, Jatim Serap Seperempatnya

- Sabtu, 18 April 2026 | 05:30 WIB
LPEI Salurkan Rp13,7 Triliun Kredit ke Industri, Jatim Serap Seperempatnya

Gresik, Jumat lalu – Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) baru saja merilis data yang cukup menggembirakan. Ternyata, penyaluran kredit mereka ke sektor industri sudah menembus angka Rp13,7 triliun. Angka yang fantastis, bukan?

Dana segar itu mengalir ke berbagai lini, mulai dari manufaktur sampai pertambangan. Tapi yang menarik, Jawa Timur tampaknya jadi primadona. Sekitar 25 persen dari total kucuran dana itu diserap pabrik-pabrik di provinsi tersebut.

“Untuk Jawa Timur, saat ini terdapat 61 perusahaan yang memanfaatkan fasilitas PKE. Sekitar seperempat dari total penyaluran PKE mengalir ke wilayah ini, dengan nilai mencapai kurang lebih Rp9 triliun dan tujuan ekspor ke lebih dari 30 negara,” jelas Sulaeman, Direktur Pelaksana Bisnis II LPEI.

Pernyataan itu dia sampaikan dalam sebuah media briefing di pabrik Kokola, Gresik. Menurutnya, realisasi kredit melalui skema Pembiayaan Khusus Ekspor (PKE) sepanjang 2025 sudah mencapai Rp7,68 triliun. Dan kebanyakan, debitur bergerak di bidang makanan dan minuman.

Dia juga menegaskan dampaknya jauh lebih besar dari sekadar angka. “Dari satu rupiah pembiayaan, dampak pengembangannya bisa mencapai tiga kali lipat. Ini menunjukkan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, termasuk melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan konsumsi rumah tangga,” tutur Sulaeman.

Jadi, efek bergandanya nyata. Setiap rupiah yang dikucurkan didorong bisa memicu pengembangan usaha hingga tiga kali lipat nilai awalnya. Sepanjang tahun lalu, program PKE Trade Finance ini disebut telah berkontribusi menciptakan dan menghemat devisa hingga Rp21,12 triliun, menjangkau 18 sektor berbeda.

Di sisi lain, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak yang hadir dalam kesempatan sama turut angkat bicara. Dia menekankan betapa vitalnya peran manufaktur sebagai tulang punggung ekonomi daerah.

“Ekspor makanan olahan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi Jawa Timur, bahkan Indonesia,” ujar Emil.

Statistiknya mendukung pernyataan itu. Sektor makanan dan minuman jadi penyumbang ekspor terbesar dengan nilai mencapai USD2,64 miliar pada 2025, atau sekitar 8,7 persen dari total. Pertumbuhannya juga solid, naik 13,85 persen year-on-year. Secara keseluruhan, industri manufaktur menyumbang 31,32 persen bagi perekonomian Jatim.

Cerita suksesnya bisa dilihat langsung dari beberapa perusahaan. PT Mitra Saruta Indonesia, misalnya, di sektor tekstil. Mereka adalah debitur LPEI dengan pembiayaan di atas Rp100 miliar dan berhasil mencatat pertumbuhan pendapatan dua digit secara konsisten, terutama lewat ekspor ke pasar seperti Jepang.

Lalu ada PT Mega Global Food Industri, si pembuat biskuit Kokola yang mungkin familiar di lidah kita. Perusahaan ini sudah empat tahun terakhir mendapat pembiayaan dari LPEI, dengan kredit yang diterima mencapai Rp50 miliar. Dukungan itu membantu ekspansi ekspor mereka yang kini sudah merambah lebih dari 50 negara.

Semua data ini, setidaknya, memberi gambaran bahwa geliat industri ekspor masih cukup kuat. Dan dukungan pembiayaan ternyata punya riak efek yang luas, jauh melampaui sekadar angka di laporan keuangan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar