Pemerintah Pacu Biodiesel B50 dan E20 untuk Kurangi Ketergantungan Impor Energi

- Jumat, 17 April 2026 | 02:30 WIB
Pemerintah Pacu Biodiesel B50 dan E20 untuk Kurangi Ketergantungan Impor Energi

JAKARTA - Langkah pemerintah untuk lepas dari ketergantungan impor energi semakin konkret. Kali ini, lewat dua program bioenergi yang digeber sekaligus: biodiesel B50 dan mandatori etanol E20. Targetnya jelas, kemandirian energi nasional. Di sisi lain, langkah ini juga diharapkan jadi motor penggerak ekonomi dalam negeri.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, implementasi B50 jadi prioritas dan ditargetkan mulai tahun ini. Ini merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto untuk menggenjot sektor biofuel.

“Arahan bapak presiden, yaitu biofuel. B50 jalan kita stop impor solar 5 juta ton. Nah ini capaian yang luar biasa. Karena akan membuka lapangan kerja, menurunkan kemiskinan, dan meningkatkan kesejahteraan,”

kata Amran dalam sebuah pertemuan dengan jajaran PTPN dan Danantara, Kamis (16/4/2026).

Tak cuma biodiesel, pemerintah juga serius dengan etanol. Program mandatori E20 digadang-gadang sebagai bagian penting dari bauran energi nasional. Untuk mendukungnya, Amran menyebut Indonesia membutuhkan pasokan etanol yang tidak sedikit: sekitar 8 juta ton.

“Yang paling terakhir adalah etanol. Kita menuju mandatori E20. Kita butuh 8 juta ton etanol. Artinya apa? Suatu saat kita mandiri karena Brazil sekarang sudah bisa E70, E100,”

ujarnya penuh keyakinan.

Bayangannya sih sederhana. Kalau seluruh rantai bioenergi ini bisa berjalan mulus, dampaknya bagi perekonomian bakal terasa luas. Angka kemiskinan dan pengangguran berpeluang ditekan, yang ujung-ujungnya berimbas pada kesejahteraan masyarakat.

“Kalau ini semuanya mandiri, insya Allah, menciptakan lapangan kerja, menurunkan kemiskinan, kemudian pengangguran kita turunkan, kesejahteraan meningkat, Indonesia emas kita rebut,”

tutur Amran.

Dari sisi pelaku usaha, komitmen juga menguat. Managing Director Business 2 Danantara, Setyanto Hantoro, menyatakan kesiapan perusahaannya mendukung program pemerintah ini. Menurutnya, program B40 yang sudah jalan saja dampaknya sudah terlihat, yakni mengurangi impor solar. Bahkan, dengan B50, peluang ekspor terbuka lebar.

"Dan dengan B40 sekarang sebetulnya kita sudah nggak impor solar. Nanti kalau B50 kita bahkan ekspor solar. Jadi yang sekarang B40 sudah terpenuhi,”

kata Setyanto.

Lalu bagaimana dengan persiapan untuk E20? Pembangunan fasilitas produksi etanol digenjot. Saat ini, satu pabrik sudah beroperasi. Satu lagi sudah memasuki tahap groundbreaking di Jawa Timur. Rencananya, akan ada empat pabrik tambahan lagi yang dibangun, sehingga total nantinya ada enam fasilitas produksi.

“Yang berikutnya adalah untuk yang gasolin, untuk bensin ya, itu nanti menuju E20. Tadi dengan Pak Mentan sudah sepakat kita akan groundbreaking beberapa, yang sudah ada sekarang baru satu pabrik, yang kedua sudah di groundbreaking di Jawa Timur, kemudian menyusul empat lagi, jadi totalnya enam. Itu untuk memenuhi E20 nantinya,”

jelas Setyanto.

Semua rencana itu kini tinggal menunggu eksekusi di lapangan. Antara harapan dan realitas, tentu masih ada jalan panjang. Tapi setidaknya, peta menuju kemandirian energi mulai tergambar lebih jelas.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar