Gubernur BI Soroti Tiga Pilar Ketahanan Ekonomi di Tengah Ketidakpastian Global

- Jumat, 17 April 2026 | 01:00 WIB
Gubernur BI Soroti Tiga Pilar Ketahanan Ekonomi di Tengah Ketidakpastian Global

Di tengarai cuaca ekonomi global yang masih berawan, Gubernur Bank Indonesia justru menyoroti tiga pilar penopang ketahanan nasional. Menurutnya, ketahanan itu bertumpu pada kredibilitas kebijakan, kemampuan adaptasi, dan tentu saja, kemitraan internasional yang kuat. Poin-poin ini menjadi pesan kunci yang terus digaungkan dalam serangkaian pertemuan di Washington, D.C., baru-baru ini.

Anton Pitono, Direktur Departemen Komunikasi BI, membeberkan rinciannya. Faktor pertama adalah soal konsistensi. Sinergi antara kebijakan moneter, fiskal, dan upaya menjaga stabilitas sistem keuangan harus dijalankan dengan kredibel. Tanpa itu, fondasinya bisa rapuh.

Lalu, yang kedua adalah adaptasi. Dunia terus berubah, dan kerangka kebijakan kita harus lincah menyesuaikan diri dengan dinamika global yang serba tak pasti ini. Tidak bisa kaku.

“Ketiga, penguatan kerja sama internasional,” jelasnya. Ini termasuk dengan Amerika Serikat dan banyak negara mitra lainnya. Ketiganya jadi bahan diskusi utama dalam pertemuan dengan investor global, juga dengan US-ASEAN Business Council dan International Monetary Fund (IMF) dalam rangkaian IMF–World Bank Spring Meetings 2026.

Di sisi lain, pertemuan langsung antara Gubernur BI dan Menteri Keuangan RI dengan kalangan bisnis AS menunjukkan sesuatu yang penting. Di tengah ketidakpastian yang makin menjadi, interaksi semacam ini sangat krusial. Indonesia tak hanya menegaskan bahwa ekonominya tetap tangguh menghadapi krisis, tapi juga membangun kepercayaan para investor AS yang berkepentingan di kawasan Asia Tenggara.

Pada hari yang sama, Gubernur BI juga bertemu dengan Dan Katz, First Deputy Managing Director IMF. Pembicaraan mereka lebih fokus pada perkembangan geopolitik dan tingkat ketidakpastian global yang tinggi.

Dalam diskusi itu terungkap, risiko global kini tidak lagi sekadar soal harga minyak. Ancaman bisa menyebar melalui rantai pasok global yang rumit. Makanya, kalibrasi kebijakan tidak boleh hanya melihat indikator yang sudah tampak di permukaan. Kemampuan untuk mengendus dan mengantisipasi risiko yang masih mengendap sama pentingnya.

Nah, selaras dengan tiga faktor kunci tadi, Bank Indonesia kini terus menggenjot sinergi kebijakan di kancah internasional. Komunikasi dengan investor global juga diintensifkan. Tujuannya jelas: menjaga stabilitas eksternal dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional agar tetap bisa melaju, meski ombak ketidakpastian global kian tinggi menerpa.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar