Beberapa wilayah menjadi titik hitam. Nakhon Ratchasima dan Phitsanulok, misalnya, masing-masing mencatat tiga kematian di hari kedua. Sementara Provinsi Nan memimpin dalam jumlah kejadian kecelakaan, dan Nan bersama Lampang punya korban luka tertinggi.
Lalu, apa penyebab utama semua ini? Ternyata, faktor manusia masih jadi biang keladi. Hampir separuh kecelakaan (46.71%) dipicu oleh kecepatan tinggi. Sementara itu, mengemudi di bawah pengaruh alkohol menyumbang 24.76%. Mayoritas korbannya adalah pengendara sepeda motor, yang mendominasi 61% dari total kasus. Jalan lurus di jalur utama justru menjadi tempat paling berbahaya, dengan korban terbanyak berusia muda, antara 20 hingga 29 tahun.
Menyikapi musibah tahunan yang seolah jadi ritual kelam ini, pemerintah Thailand tak tinggal diam. Otoritas setempat mengeluarkan pernyataan tegas.
Langkah-langkah pencegahan itu jelas diperlukan. Namun, pertanyaannya, apakah cukup untuk mengubah budaya berkendara di tengah euforia festival yang sudah mengakar? Songkran 2026 meninggalkan duka yang dalam sebuah pengingat pahit bahwa di balik kemeriahan, ada nyawa yang taruhannya.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Disambut Upacara Militer dan Gelar Pertemuan Bilateral dengan Macron di Paris
Pakar Hukum: Pernyataan Saiful Mujani Tak Penuhi Unsur Makar
Mantan Kepala BAIS TNI: Pernyataan Menjatuhkan Prabowo Bangkitkan Sensor Intelijen
Menteri Haji Tegaskan Negosiasi Tarif Penerbangan 2026, Batasi Kenaikan Rp1,7 Triliun