JAKARTA – Pernyataan dua tokoh, Saiful Mujani dan Islah Bahrawi, soal menjatuhkan Presiden Prabowo Subianto dinilai telah membangunkan 'sensor' intelijen. Analisis ini datang dari mantan Kepala BAIS TNI, Laksda TNI (Purn) Soleman Ponto. Menurutnya, ucapan semacam itu merupakan bagian dari deteksi dini yang membuat aparat waspada.
“Artinya apa? Sensor-sensor deteksi dini itu langsung bangun,” kata Soleman dalam program ‘Rakyat Bersuara’ di iNews, Selasa (14/4/2026).
Fokusnya ada pada pilihan kata. “Apa deteksi dini? Kata-kata apa? Mari kita tumbangkan. Ada kata ‘dapatkah ditumbangkan’? Dalam bahasa kita, ah ini ada niat ingin menumbangkan,” ujarnya menerangkan.
Begitu niat itu tercium, lanjut Soleman, seluruh perhatian akan mengarah pada sumbernya. “Begitu niat menumbangkan muncul, sensor-sensor deteksi dini bangun semua. Semua kamera mengarah kepada dua orang ini,” tuturnya.
Lantas, kapan kewaspadaan ini berakhir? Soleman bilang, itu sangat tergantung pada perkembangan sikap kedua orang tersebut. Terbukti, tak lama setelah pernyataannya viral, Saiful dan Islah sudah dilaporkan ke polisi.
Namun begitu, tingkat responsnya bisa berbeda-beda di lapangan. Soleman mengingatkan bahwa hati dan stabilitas setiap perwira tidak sama.
“Kapan sensor-sensor ini akan bergerak on-off? Sangat tergantung standar masing-masing yang memegang alat ini,” jelasnya.
“Kalau pati (perwira tinggi) dia agak bisa beradaptasi. Kalau pamen (perwira menengah) setengah beradaptasi. Kalau pama (perwira pertama) sangat sensitif. Dan itu otomatis.”
Dia menegaskan kembali tugas pokok TNI: menegakkan kedaulatan, menjaga keutuhan wilayah, dan melindungi bangsa. Implikasinya jelas. “Pemerintah atau presiden dalam hal ini lambang negara tidak boleh turun apabila direncanakan atau diniatkan di luar aturan,” tegas Soleman.
Pernyataan yang memicu polemik ini berasal dari sebuah video viral. Di dalamnya, Saiful Mujani menyinggung soal pemakzulan.
“Saya alternatifnya bukan pada prosedur yang formal impeachment seperti itu, itu tidak akan jalan. Yang jalan hanya ini: bisa nggak kita mengonsolidasikan diri untuk menjatuhkan Prabowo? Hanya itu,” kata pendiri SMRC itu.
Menanggapi laporan yang menimpanya, Saiful bersikap terbuka. “Monggo, itu sah,” katanya saat dihubungi Kamis (9/4/2026).
Meski demikian, Guru Besar UIN Jakarta ini punya pendapat lain. Baginya, seharusnya opini dilawan dengan opini, bukan dengan melibatkan aparat.
“Yang ideal, opini dan sikap dibalas dengan opini dan sikap juga. Gak usah bawa-bawa negara,” pungkas Saiful.
Artikel Terkait
KPK Tunda Pelimpahan Berkas Korupsi Kuota Haji hingga Ibadah Haji Selesai
Rupiah Menguat 76 Poin ke Rp17.805 di Tengah Ketegangan Selat Hormuz dan Aturan Baru Devisa Ekspor
Gunung Merapi Luncurkan Awan Panas Guguran, Jarak Luncur Tak Terpantau Akibat Kabut
Hingga Akhir Mei 2026, 13,59 Juta SPT Tahunan Masuk, Karyawan Mendominasi