Jakarta, Selasa lalu dalam sebuah briefing media yang digelar di Jakarta Pusat, Roblox mengumumkan langkah baru untuk mengamankan pengalaman bermain bagi penggunanya yang masih remaja. Intinya, platform game populer itu kini mewajibkan persetujuan orang tua lewat fitur Verified Parental Consent (VPC).
Fitur ini memberi kendali lebih besar pada orang tua. Mereka bisa memilih game apa saja yang boleh dimainkan, mengatur fitur obrolan, dan memastikan konten yang diakses sesuai usia anak.
Tami Bhaumik, Wakil Presiden Roblox, hadir langsung untuk menjelaskan kebijakan ini.
"Orang tua bisa menyetujui game tertentu, mengatur chat, hingga memastikan anak bermain sesuai usia," ujarnya.
Menurutnya, langkah ini bukan sekadar formalitas. Khusus untuk pengguna berusia 12 hingga 15 tahun, akses fitur chat kini benar-benar dikunci dan hanya bisa dibuka setelah orang tua memberi izin. Tujuannya jelas: meminimalisir interaksi berisiko, terutama dengan orang yang tidak dikenal.
Di sisi lain, Roblox tak berhenti di situ. Sistem pengawasan mereka akan tetap aktif mengawasi hingga pengguna menginjak usia 16 tahun. Semua ini bagian dari upaya menciptakan ruang digital yang lebih aman, tentunya.
Tapi, Tami menegaskan satu hal. Teknologi secanggih apa pun tidak akan cukup tanpa peran aktif orang tua.
"Perlindungan anak tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga keterlibatan orang tua," tegasnya.
Dia bahkan punya saran yang cukup praktis: cobalah bermain bersama anak. Dengan membuat akun orang tua dan terjun langsung ke dalam dunia Roblox, orang tua bisa benar-benar memahami apa yang dialami anak-anak mereka di sana.
“Saran pertama, buat akun orang tua dan bermainlah dengan anak Anda,” katanya.
Selain itu, Tami mengajak orang tua untuk melihat lebih dari sekadar durasi. Daripada sibuk menghitung menit screen time, lebih baik fokus pada kualitas aktivitas digital anak. Apa yang sebenarnya mereka lakukan di dalam game? Itu yang lebih penting.
Sebagai solusi, dia menyarankan untuk membuat kesepakatan bersama. Buatlah semacam kontrak waktu bermain yang disetujui kedua belah pihak. Yang tak kalah krusial adalah membangun komunikasi yang terbuka.
Anak harus merasa aman untuk bercerita jika menemui sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.
“Tidak ada yang namanya sekali beres. Komunikasi harus terus dijaga,” pungkas Tami.
Langkah Roblox ini tampaknya menjadi respons atas kekhawatiran yang kian berkembang seputar keamanan anak di dunia digital. Mereka berusaha menyeimbangkan antara kebebasan bermain dan rasa aman. Hasilnya? Kita lihat saja nanti.
Artikel Terkait
Empat Pemain Timnas Indonesia Berpeluang Tampil di Kompetisi Eropa Musim Depan, Satu di Antaranya Tembus Liga Champions
Trump Minta Syarat Diperketat, Kesepakatan Akhiri Konflik dengan Iran Masih Tertunda
Polisi Tangkap Pasutri Pelaku Penipuan Wedding Organizer di Jakarta Timur, Kerugian Capai Rp2,6 Miliar
Eksel Runtukahu Akhirnya Wujudkan Mimpi Bela Timnas Indonesia, Siap Buktikan Diri di TC Proyeksi Piala AFF 2026