Krisis bahan baku fosil global, yang jadi bahan dasar plastik, langsung berimbas ke harga. Nah, momen kerentanan inilah yang menurut Walhi harus jadi titik balik. Alih-alih sekadar menghitung untung rugi ekonomi, momentum ini dinilai sebagai sinyal keras untuk mengubah sistem secara fundamental.
“Karena itu, Walhi menilai ini bukan soal masalah ekonomi semata. Ini sinyal kuat bahwa sistem harus diubah. Momentum ini seharusnya digunakan untuk mendorong transisi menuju sistem zero waste, bukan malah memperluas industri petrokimia,” papar Wahyu.
Lalu, bagaimana dengan target penurunan sampah plastik jangka pendek? Wahyu bersikap realistis. Fokus pada angka penurunan temporer, menurutnya, bukan solusi terbaik. Yang dibutuhkan adalah perubahan struktural yang lebih dalam.
“Fokusnya bukan pada proyeksi penurunan jangka pendek, melainkan pada perubahan struktural,” ujarnya.
“Penurunan signifikan hanya bisa terjadi jika ada kebijakan yang membatasi produksi plastik dari hulu. Dan yang tak kalah penting, mendorong sistem guna ulang secara luas,” pungkas Wahyu.
Jadi, mahalnya plastik mungkin bikin kita mengelus dada. Tapi di balik itu, ada pelajaran berharga tentang betapa rapuhnya ketergantungan kita pada bahan yang satu ini. Dan itu, mungkin, justru titik awalnya.
Artikel Terkait
Survei: 74,1 Persen Publik Puas dengan Kinerja Awal Pemerintahan Prabowo-Gibran
ASEAN Desak AS dan Iran Segera Kembali ke Meja Perundingan
Sunderland Tundukkan Tottenham 1-0 Berkat Gol Tunggal Mukiele
BI Perkuat Intervensi di Pasar Valas untuk Jaga Stabilitas Rupiah