Keputusan Presiden AS Donald Trump untuk melancarkan serangan di Venezuela demi menangkap Nicolás Maduro ternyata tak hanya disambut sorak-sorai. Di dalam negeri, langkah itu justru memantik gelombang kritik, bahkan dari kalangan Partai Republik sendiri. Partai Demokrat pun tak kalah vokal mempertanyakan legalitas dan kebijaksanaan operasi militer ini. Intinya, banyak yang khawatir Amerika bakal terjerumus lagi ke dalam konflik luar negeri yang panjang dan menghabiskan banyak biaya.
Yang cukup mengejutkan, kritik pedas datang dari Marjorie Taylor Greene, anggota DPR yang dikenal sebagai tokoh garis keras pendukung MAGA. Padahal, baru-baru ini ia menuduh Trump mengkhianati gerakan tersebut. Greene meragukan narasi resmi yang menyebut operasi ini murni untuk memburu penyelundup narkoba.
"Lalu mengapa pemerintahan Trump belum mengambil tindakan terhadap kartel Meksiko?" tanyanya di platform X, seperti dilaporkan NBC, Minggu (4/1/2026).
Menurutnya, ini lebih mirip upaya perubahan rezim yang didorong keinginan menguasai cadangan minyak Venezuela. Greene lantas menyentuh persoalan yang selalu sensitif di kalangan publik AS: rasa lelah terhadap keterlibatan militer di luar negeri yang menghabiskan uang rakyat.
"Kekesalan rakyat Amerika terhadap agresi militer pemerintah kita sendiri yang tak berkesudahan dan dukungan terhadap perang asing dibenarkan karena kita dipaksa untuk membayarnya," ujar Greene.
"Dan kedua partai, Republik dan Demokrat, selalu mendanai dan menjalankan mesin militer Washington. Inilah yang banyak orang di MAGA kira telah mereka akhiri dengan memberikan suara. Ternyata kita salah besar."
Di sisi lain, ada juga suara yang lebih berimbang. Don Bacon, anggota DPR dari Nebraska yang dikenal moderat, punya pandangan berbeda. Ia mengakui bahwa jatuhnya Maduro bisa jadi angin segar bagi rakyat Venezuela dan stabilitas kawasan.
Tapi sebagai veteran militer, Bacon punya kekhawatiran mendalam. Ia takut aksi AS ini malah jadi preseden buruk, memberi alasan bagi negara lain untuk bertindak serupa.
"Kekhawatiran utama saya sekarang adalah Rusia akan menggunakan ini untuk membenarkan tindakan militer ilegal dan biadab mereka terhadap Ukraina, atau China untuk membenarkan invasi ke Taiwan," kata Bacon.
"Kebebasan dan supremasi hukum dipertahankan tadi malam, tetapi para diktator akan mencoba memanfaatkan ini untuk membenarkan tujuan egois mereka."
Jadi, meski operasi militer di Venezuela mungkin terlihat sukses di lapangan, gelombang kritik di dalam negeri AS justru sedang membesar. Pertanyaannya sekarang, apakah kemenangan cepat ini worth it dengan risiko politik dan diplomatik yang mengikutinya? Hanya waktu yang bisa menjawab.
Artikel Terkait
Polres Jakbar Amankan Sajam dalam Patroli Dini Hari di Sebelas Titik Rawan
Api Kembali Menyala di Lokasi Kebakaran Tambora, Damkar Kerahkan 8 Mobil Pemadam
Polisi Selidiki Kematian Wanita 20 Tahun di Hotel Kebayoran Baru, Temukan Luka di Kepala
Dari Kantoran ke Pengusaha Kuliner, Dian Kembangkan Serundeng Krispi Tembus Pasar Eropa Berkat Pelatihan Rumah BUMN BRI