“Tidak ada kekurangan apa pun,” tutur pejabat yang minta anonim itu, karena tidak berwenang bicara kepada media.
“Mereka mengantisipasi skenario terburuk. Logistik untuk memberi makan penduduknya saja, mereka klaim cukup untuk enam bulan ke depan,” lanjutnya.
Bayangkan. Jangka waktu enam bulan itu sangatlah kontras dengan narasi awal perang. Dulu, PM Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan meyakinkan Presiden AS Donald Trump bahwa operasi penggulingan rezim bisa selesai hanya dalam hitungan hari. Nyatanya, jalan perang tak pernah semudah itu.
Daya tahan Iran yang disebut-sebut lebih panjang ini punya implikasi serius. Bukan cuma menguras persediaan rudal pertahanan Israel dan sekutu Arabnya di Teluk. Yang lebih mencemaskan adalah dampaknya pada ekonomi global, yang sudah terpukul cukup berat.
Gangguan rantai pasok dan kelangkaan minyak akibat pemblokiran Selat Hormuz oleh Iran adalah pukulan telak. Dan membuka jalur sempit yang vital itulah yang menjadi tuntutan utama AS di meja perundingan Pakistan.
Jadi, di satu sisi ada pembicaraan damai. Di sisi lain, di kedalaman bumi, mesin perang terus berdetak. Menunggu.
Artikel Terkait
BMKG Peringatkan Kemarau Lebih Kering dan Ancaman Karhutla Meningkat pada 2026
Uji Coba B50 Capai 70%, Targetkan Peluncuran Juli 2026
Mensos Salurkan Bantuan Tahap Kedua Rp76,68 Miliar untuk Korban Bencana Aceh Tamiang
KPK Tangkap Bupati Tulungagung, Sita Uang Ratusan Juta Rupiah