ISTANBUL Di balik meja perundingan di Pakistan, ada sebuah persiapan lain yang jauh lebih gelap sedang berlangsung. Sementara gencatan senjata dua minggu antara Iran dan AS-Israel masih berlaku sejak awal April, para pengamat justru mencium gelagat lain. Mereka meyakini Teheran diam-diam mempersiapkan diri untuk sebuah perang skala penuh, jika saja jalur diplomasi itu akhirnya buntu.
Jauh di dalam terowongan-terowongan bawah pegunungan, aktivitas justru kian sibuk. Menurut sejumlah laporan, produksi rudal dan drone baru terus digenjot. Ini bukan persiapan untuk sekadar bermanuver, tapi untuk sebuah konflik yang berlarut-larut.
Ali Ahmadi, seorang ahli strategi geopolitik di Teheran, membenarkan kesiapan itu. Ia pernah menjabat sebagai penasihat di Kementerian Luar Negeri Iran.
“Iran telah membangun basis industri yang sangat besar,” katanya kepada The Straits Times. “Khusus untuk memproduksi peralatan militer yang dibutuhkan agar bisa terus bertempur dalam waktu lama.”
Menurut Ahmadi, ketakutan terbesar Iran bukanlah perang yang panjang. Justru sebaliknya.
“Yang lebih dikhawatirkan adalah perang berakhir, lalu dimulai lagi dalam enam bulan. Saat itulah AS punya waktu untuk mengumpulkan akal sehat dan menyusun strategi militer baru yang lebih matang,” ujarnya.
Kesiapan untuk konflik jangka panjang ini juga diamini oleh seorang pejabat internasional yang bertugas di Teheran. Dari sumber-sumber dalam pemerintahannya, ia mendapat informasi bahwa Iran siap bertahan hingga setidaknya September 2026.
Artikel Terkait
BMKG Peringatkan Kemarau Lebih Kering dan Ancaman Karhutla Meningkat pada 2026
Uji Coba B50 Capai 70%, Targetkan Peluncuran Juli 2026
Mensos Salurkan Bantuan Tahap Kedua Rp76,68 Miliar untuk Korban Bencana Aceh Tamiang
KPK Tangkap Bupati Tulungagung, Sita Uang Ratusan Juta Rupiah