Rabu lalu, di tengah teriknya Gresik, sebuah proyek ambisius akhirnya dimulai. Pabrik melamin yang disebut-sebut sebagai yang terbesar dan pertama di Indonesia resmi dibangun di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) setempat. Proyek ini bukan main-main, dengan nilai investasi yang mencapai Rp10,2 triliun.
PT GEABH Joint Technology, sang penggarap, punya target yang jelas. Mereka ingin membangun rantai industri melamin terintegrasi. Nantinya, fasilitas ini akan mengolah gas alam menjadi amonia, lalu diproses lagi menjadi urea, sebelum akhirnya jadi produk bernilai tinggi seperti melamin dan amonium nitrat. Kapasitasnya? Cukup besar: 800 ton amonia per hari, 1.500 ton urea, dan 200 ton melamin. Kalau semuanya berjalan mulus, pabrik ini bisa menghasilkan 120.000 ton melamin per tahun dan diharapkan sudah beroperasi pada pertengahan 2027.
Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto, yang juga Ketua Dewan Nasional KEK, menyoroti pentingnya proyek ini. Dalam sambutannya yang disampaikan secara daring, dia menekankan bahwa ini adalah bagian dari rencana besar.
Menurut Airlangga, langkah ini sejalan betul dengan arah kebijakan pemerintah dalam RPJMN 2025–2029, di mana hilirisasi dan penguatan KEK jadi prioritas utama. Gresik sendiri sudah ditetapkan sebagai KEK prioritas nasional yang punya peran strategis.
Artikel Terkait
Pemerintah Pastikan Pasokan LPG Aman Meski Selat Hormuz Tegang
Pemerintah Siapkan Implementasi B50 Mulai Juli 2026, Proyeksi Hemat Subsidi Rp48 Triliun
Groundbreaking Pabrik Melamin Pertama Indonesia Senilai Rp10,2 Triliun Digelar Pekan Depan di Gresik
Menko Airlangga: Ekonomi Kuartal I-2026 Tumbuh 5,5%, Penerimaan Pajak Naik 14,3%